Sunday, January 1, 2017

Halo 2017

0 comments

Sama seperti tahun-tahun-tahun-tahun-tahun sebelumnya, di malam tahun baru, saya tiduran dengan nyaman di kamar tercinta sambil berkali-kali gonta ganti saluran tv. Pas sore-sorenya, mama saya tiba-tiba ngasih tau kalo adik saya ga pulang ke rumah karena dia sama temennya mau liat kembang api di Monas. Saya pun ketawa, "Ap-hah? cuma liat kembang api doang?"
HAHAHAHAHAHAHAHA
HA
HA
HA....
Dalam hati... Pengen juga dongs ada yang ngajakin liat kembang api :"

Untuk menghilangkan kebosanan dan kesedihan, sekitar jam 9 malam, saya pun memutuskan untuk olahraga *kurang gaya apa coba. Ceritanya lari di treadmill, tapi baru beberapa menit lari, udah ngosngosan. Saya pun memilih berjalan cepat, eh tapi baru 2 menit kaki saya udah letih, saya pun memilih berjalan lambat... Sampai akhirnya 5 menit kemudian saya sudahi lari-lari itu dan lebih memilih duduk manis sambil gonta ganti saluran tv lagi...


Balik ke masalah resolusi di tahun 2017. Emmm sebelum menceritakannya. Saya ingin mengulas sedikit kehidupan saya di tahun 2016 kemarin. Ada hal-hal yang menyedihkan,  seperti di tahun ini saya kehilangan banyak kucing peliharaan... Selebihnya,  lebih banyak hal menyenangkan terjadi karena beberapa resolusi saya tercapai di tahun ini :)
Beberapa di antaranya,  saya berkenalan dan berteman dengan orang-orang menyenangkan,  mendapat banyak ilmu dari penulis-penulis keren, cukup produktif mengerjakan hobi menggambar di waktu luang, berkumpul dengan teman-teman lama, jumlah postingan saya di blog ini mengalami peningkatan dari tahun, dan bulan-bulan sebelumnya. Yeaaay *bersorak gembira

Untuk tahun 2017... masih ada resolusi dari tahun-tahun kemarin yang mengisi daftar tahun 2017 ini. Ga mau saya ceritain semua sih, cuma beberapa aja :)

Lebih Fit
Fit yang saya maksud disini, selain sehat juga punya berat badan ideal. Saya rasa untuk mencapai berat ideal itu, sesuai dengan tinggi saya, saya paling tidak harus mengurangi 5 kg *sotoy. Sebenernya saya ga terlalu suka makan banyak *seriusan, tapi sayangnya saya sangat amat suka nyemil, seperti permen, snack, kue, coklat, es krim, dll. Kalo lagi di rumah, asal ada bunyi tektektek tukang apa aja saya lari-lari keluar. Alhasil, kebanyakan nyemal nyemil bikin berat badan saya naik...
Bagian wajah sayalah yang paling sering dapat komentar teman-teman dan keluarga. "Pipinya tembem banget" "Pipi lo bulat" "Pipinya kaya bakpao deh" gimana ga sedih coba disebutin begitu... Yang bikin makin sedih, pas ngaca ngomong sama diri sendiri "Bener kata mereka, kenapa lemak-lemak ini nangkring di pipiku..." So, untuk merealisasikan resolusi ini, selain mengurangi cemal cemil, saya juga mau rajin olahraga. Dimulai olahraga ringan, kaya jalan-jalan kecil sampe nantinya olahraga berat, kaya angkat beban. ha-ha...

Belajar bikin sketsa bangunan
Di awal bulan Desember kemarin, sewaktu ketemuan sama dua temen lama, yang sama-sama merupakan arsitek. Mereka ngajakin saya untuk dateng sebentar ke kota tua ngikutin kegiatan komunitas sketching gitu. Berhubung penasaran pengen liat secara langsung orang-orang bikin sketsa, saya pun mengiyakan. Ternyata... KEREN! Mereka bikin sketsa tanpa pakai pensil, langsung pake sejenis drawing pen. Mereka bikin sketsa bangunan, dan suasana kota tua yang keren bangets deh pokoknya. Bikin saya jadi iri... 
Tiba-tiba di tengah lamunan, teman saya ngajakin saya untuk nyoba juga. Pakai alasan bukan anak arsitek dan ga bisa gambar bangunan, saya menolak. Tapi pas tahu salah satu anggota komunitas itu sendiri bukan anak arsitek, saya kagum. Saya pun berbicara dalam hati "Kalau dia aja bisa, kenapa saya enggak." *ceritanya sotoy lagi. Saya pun mengeluarkan sketchbook. Ga mau keliatan sombong, saya ngeluarin pensil aja *padahal emang ga yakin pake drawing pen langsung :". Saya milih objek Museum Fatahillah.
Ga tanggung-tanggung.. ketika beberapa orang di sana milih bikin sketsa bagian atapnya, setengah bagian bangunan, saya yang awam ini milih buat gambar museum itu secara keseluruhan! Bat bet bat bet gores sana sini. Hasilnya... gambar saya kaya gambar anak TK. Sedih.... 
Satu hal yang saya pelajari saat itu, untuk bisa bikin sketsa yang bagus, semua butuh proses :) Oleh karena itu, tahun ini saya berharap bisa banyak belajar bikin sketsa bangunan! Semoga walau sketsa saya ga sebagus anggota komunitas itu, nantinya sketsa saya ga kaya gambar anak TK lagi.

  
Baca 24 Buku
24 buku adalah jumlah minimum yang saya harap dapat saya baca dalam satu tahun ini. Tahun sebelumnya, saya menargetkan cukup banyak, tetapi kenyataannya setengahnya aja ga kecapai. Tahun ini saya berharap bisa membaca paling tidak 2 buku setiap bulannya, entah itu fiksi atau sejenis buku self-improvement.

Itulah segelintir resolusi saya di tahun 2017, masih banyak resolusi lain yang ga bisa saya sebutkan satu persatu di sini berhubung list-nya cukup panjang~

Btw saya harap di luar urusan pekerjaan, saya bisa lebih aktif menulis. Salah satunya dengan lebih meningkatkan jumlah postingan di blog ini. Tadinya saya pikir untuk apa saya masih ngurus inih blog, siapa juga yang baca. Tapi begitu melihat statistik visitor, ternyata masih ada yang berkunjung (mungkin tanpa sengaja jadi nyasar ke blog thya yang ga jelas ini :( ). Di luar itu, saya menganggap blog ini sebagai tempat kedua menyalurkan pikiran saya, setelah coretan tulisan tangan yang sifatnya lebih pribadi di buku jurnal. 

Selamat Tahun Baru! :))







Tuesday, December 27, 2016

Tak Mutlak

0 comments

Sebentar terkadang terasa lama
Lama terkadang terasa sesaat
Pikiran tak selalu sama
Memaknai tak mengikat

Momen serupa
Dianggap berlainan
Hal yang utama
Diacuhkan


Ternyata memang tak mutlak...

Saturday, December 17, 2016

Sikap dan Perasaan Nyaman

0 comments

‘Sikap’ menurut saya adalah topik yang menarik untuk dibicarakan. Ada pepatah yang saya sukai berkaitan dengan hal yang satu ini. Saya coba telusurin sumbernya, hanya tertulis kalau ini pepatah Jepang.

"The first face, you show to the world. The second face, you show to your close friends, and your family. The third face, you never show anyone. It is the truest reflection of who you are." 

Setiap orang punya 3 wajah atau yang saya anggap sebagai sikap yang berbeda ketika berhadapan dengan lingkungan yang berbeda. Sikap saat berhadapan dengan orang asing atau tak terlalu dikenal, sikap saat berhadapan dengan keluarga atau teman dan orang yang spesial,  serta sikap saat seorang diri yang mencerminkan karakter diri sesungguhnya. 

Ketika berhadapan dengan orang yang tak terlalu akrab, umumnya seseorang lebih banyak diam,  kalem,  bahkan sering disangka jutek (pengecualian untuk orang yang super supel dan ekstrovert). Tapi begitu berhadapan sama teman yang lama dikenal dan akrab, sikapnya pun ikut berubah. Jadi lebih rame,  bahkan karena udah ga ada perasaan canggung lagi... jadinya justru kelihatan kekanakan dan terkadang mirip orang gila. Lalu ketika seorang diri,  seseorang yang biasanya suka bercanda dan tertawa di depan banyak orang, saat seorang diri mungkin aslinya lebih serius, banyak mikir tujuan hidupnya... cita-citanya..., dll... 

Di sini saya lebih mau ngeshare pemikiran saya berkaitan sama sikap yang ditunjukkin di depan lingkungan pertemanan saya. Di depan teman-teman, saya cendrung agak cerewet, suka banget bercanda, dan terkadang suka heboh-heboh sendiri. Sebenernya sikap saya ini juga bisa muncul saat saya baru berkenalan dengan orang baru. Loh kok bisa? Jadi begini... (nanya sendiri, jawab sendiri) Seringkali dalam beberapa menit perkenalan sama orang baru, saya bisa ngerasain apakah orang itu enak di ajak ngobrol dan membuat saya merasa nyaman atau enggak. Yah... bisa dibilang bukan lama enggaknya saling mengenal, tapi lebih ke perasaan nyaman dengan orang tersebut.

Sedikit flashback... Di masa kuliah, saya menemukan 2 orang sahabat yang berasa click banget sama saya. Seorang wanita cantik yg kini telah menjadi seorang pramugari bernama Syifa, yang lebih sering saya panggil Sipa, dan seorang lelaki yang pintar sekali mempelajari berbagai bahasa,  yang kini sedang menyelesaikan studi s2-nya di Rusia, bernama Akbar. Banyak sekali memori yang tersimpan bersama mereka.

Ketika kami bersatu dan ngumpul... kami udah kaya orang gila. Bisa dibilang istilahnya kami satu frekuensi. Sama-sama cerewet, sama-sama suka bercanda, sama-sama gila... Kami bisa mentertawakan hal-hal yang mungkin menurut orang lain "Apaan sih?  Ga jelas." Kami suka duduk selonjoran di lantai Giant atau Hypermart, nongkrong lama di sana, keluar-keluar cuma beli 3 botol air mineral... Kami sangat suka berkaraoke walau suara kami, terutama suara saya cuma cocok jadi penyanyi kamar mandi.  Kami suka pergi ke Time Zone... Kami suka bersepeda muter-muter kampus... Ketika menyetujui ide yg tercetus dari salah satu di antara kami,  kami saling bertatapan sambil melontarkan satu kata "hayuuuk" Kami menggunakan bahasa yang dimodifikasi  "yasudahse, kamu dimandose, yuhuuuu" dll. 

Kini, langkah dan bidang pekerjaan yang kami geluti sudah berbeda. Intensitas pertemuan pun bisa terhitung jari. Sipa kini di Makassar, dan Akbar di Rusia. Tapi hal yang saya syukuri, hubungan pertemanan kami masih terjalin dengan baik :)

Balik lagi ke topik mengenai sikap tadi. Sayangnya, ternyata ga semua orang yang membuat saya merasa nyaman saat di dekat mereka,  merasakan perasaan yang sama juga. Cerminan mereka ga bisa menerima sikap saya itu, mungkin dengan lontaran kalimat pendek yang tanpa mereka sadari sedikit menyakiti perasaan saya.  Jadi ya... Saat itu terjadi,  saya ga merasa marah tapi lebih ke kecewa sih... Saat saya menerima mereka apa adanya, tidak demikian dengan mereka.

Saya sendiri,  kalau ada seseorang yang sikapnya di depan orang lain kalem, dan  lebih banyak diam,  tapi ketika berinteraksi sama saya sikapnya berubah jadi rame,  banyak tertawa. Respon saya... Sangat amat senang sekali~  Seriusan. Kalau mereka bisa leluasa dan ga sungkan lagi nunjukkin sikap mereka itu di depan saya,  saya menganggap mereka nyaman berteman dan berbicara dengan saya. Sama seperti yang saya rasakan terhadap orang yang membuat saya merasa nyaman. Ujung-ujungnya balik lagi ke masalah kenyamanan sih...
  
Well,  sebagai penutup postingan kali ini. Ini dia quote yang bisa menggambarkan kenyamanan yang saya maksud. 


“There is a child inside each one of us in our life, who comes out in front of the person we are most comfortable with.” Unknown

Friday, November 4, 2016

Menyapa

0 comments

Hari menyapa

Mengenalkan pagi
Waktu berganti
Siang pun menanti
Berkunjung lagi
Malam Pemimpi

Kata menyapa
Senyum terumpan
Makna menyapa
Sudah tak terkesan...


Entah ini sudah memenuhi kaidah atau tidak, hanya ingin berekspresi...

Friday, October 14, 2016

Jalan Sendiri

0 comments

Belakangan ini banyak hal yang membebani pikiran saya. Akhirnya saya putusin refreshing. Seingat saya, jalan sendiri kaya gini sering saya lakuin di waktu semester akhir kuliah. Semester yang bikin saya dan temen-temen satu angkatan punya kesibukan sendiri-sendiri, yaitu.... ngurus SKRIPSI. Tempat yang saya sering kunjungi: Mal, tempat makan, toko buku, bioskop.

Entah kenapa di beberapa kesempatan, orang-orang lain yang ada di sekitar saya suka ngeliatin. Mungkin mereka mikir “Kasihan banget nih cewe, sendirian ga punya temen.” Haha *asal nebak.

Tanpa sadar, waktu jalan sendiri bikin saya....

Mengamati Orang Lain
Yap, karena ga ada teman yang bisa di ajak ngobrol. Saya jadinya suka ngeliat orang-orang yang hilir mudik di sekitar saya, terkadang tanpa sengaja ngedenger percakapan mereka. Bukan dalam artian saya sengaja nguping ya, tapi berhubung suara mereka kedengeran jelas, apa dikata... Kedua telinga saya nangkep suara mereka.

Menarik aja, membayangkan layaknya cerita. Masing-masing dari individu yang saya lihat itu punya cerita kehidupan masing-masing. Ada alasan kenapa mereka bisa berada di lokasi yang sama seperti saya. Misalkan tempat makan. Mereka bisa milih tempat itu karena mereka memang lapar. Bisa karena sekedar kumpul-kumpul bareng temen-temen atau pacar. Bisa karena penasaran sama menu makanannya. Bisa karena di tempat makan itu lagi ada diskon. Bisa karena lelah sama kemacetan Jakarta, jadinya istirahat ngisi perut dulu. Bahkan bisa karena kebingungan ga tau harus pergi kemana lagi (alasan yang semakin ngawur, tapi bisa jadi memang ada yang kepikiran kaya gini).

Merenung
Merasakan keramaian sekaligus kesepian. Tempat yang dikunjungi ramai, tapi hati ini terasa sepi... Haha. Becanda kok. Sendirian sering bikin saya merenung, mikirin kehidupan, mikirin kejadian di waktu yang udah berlalu. Waktu ga bisa ditebak. Kadang terasa cepat, kadang terasa lama... Terasa cepat waktu liburan bareng keluarga, waktu ngumpul bareng temen-temen, waktu nonton, waktu tidur, dan seterusnya. Terasa lama waktu macet, waktu bosan, waktu nunggu gajian. Hhe.

Ngeluarin Uang
Inilah kebiasaan jeleknya saya, setiap putar-putar pasti aja ada uang yang keluar. Saya juga termasuk tipe yang suka belanja. Makanya sebaiknya saya membatasi waktu jalan sendiri ini. Haha. Tapi sekarang, saya lebih sangat berhemat kok :)

Btw ada satu kejadian waktu saya lagi jalan sendiri, seorang mba spg parfum nyamperin saya. Percakapannya kurang lebih seperti ini.

Mba SPG: “Kakak, coba dulu deh parfum koleksi terbaru ini.”
Saya: *agak kaget* “Oh, maaf saya....”
Mba SPG: *Motong ucapan saya yang belum terselesaikan.* “Ayo lihat dulu aja ka.” *sambil narik lembut tangan saya ke tempat parfumnya.
Saya: “Aduh, maaf mba. Parfum saya masih....”
Mba SPG: *Tanpa ba-bi-bu lagi dia nyemprotin salah satu parfum di tangan kanan saya* “Coba deh, harum kan ka?”
Saya: *Saya coba endus tangan saya* ‘Eh, bener harumnya enak (Dalam hati)’
Tapi segera saya singkirin pikiran itu. Saya ga ada niat buat belanja-belanja kaya gini. “Mba, saya...”
Mba SPG: “Atau coba yang best sellernya ini ka.” *Srot* Nyemprotin lagi parfum lain di tangan saya.
Saya: “Mba...”
Mba SPG: “Eh ada satu lagi ka. Tapi kakak cium dulu deh bau kopi ini biar ngenetralin” *nyodorin sekotak biji kopi*
Saya nengok ke kotak biji kopi itu. Baru pertama kali ngeliat secara langsung, lucu banget biji kopinya. Mirip kaya biji congklak. Waktu itu saya jadi salah fokus. Haha. Sebelum mba SPG nyemprotin parfum lain, saya ngomong cepet-cepet takut dia potong lagi ucapan saya.
Saya: “Mba, maaf parfum saya masih banyak. Mungkin lain kali ya.” Saya senyum terus langsung ngacir lanjut jalan.

Diluar itu, saya salut sama mba SPG-nya. Trik dia narik pelanggan udah oke, sayangnya dia bertemu saya yang lagi berniat hemat (atau bisa dibilang bokek).



Saturday, October 8, 2016

Mengenang Kopu

2 comments

Namanya Kopu, si kucing belang hitam putih. Bisa dibilang, Kopu salah satu kucing tertua yang saya punya. Tahun ini umurnya 6 tahun. Saya berharap dia bisa terus sehat sampai umur 7, 8, 9, 10, dan seterusnya. Tapi takdir berkata lain, minggu kemarin saya baru tahu kalau kucing yang udah saya pelihara dari tahun 2010 itu mati...
Well, kerinduan pada kucing saya itulah yang membuat saya menulis sepenggal kisahnya dan juga dua sodara Kopu di sini.

***
Di bulan juni 2010, tahu-tahu ada tiga anak kucing basah kuyup di halaman depan rumah. Sebenernya sampai sekarang saya masih heran, gimana bisa tiga anak kucing yang matanya belum kebuka bisa ada di halaman rumah. Rasanya masih ga percaya aja kalo induknya milih nempatin anak-anaknya di tanah dan dihujanin pula.

Saya pernah denger anak kucing ga boleh dipegang tangan, soalnya nanti induknya jadi ga mau ngurus anaknya lagi. Tapi... setelah ditunggu seharian, ga ada tanda-tanda induknya datang. Walaupun ga ngerti gimana cara ngasih makan mereka dan sempet pesimis tiga kucing itu bisa kuat hidup, singkat cerita saya dan adik saya mutusin ngurus mereka.

Pertama kalinya kita nyoba ngasih susu cair di mangkok, ternyata ga bisa. Nyoba pake sedotan, ga bisa juga... Untunglah saya punya adik yang sigap. Dia nyari tahu susu formula yang khusus untuk kucing sama beli dotnya.

Perkiraan awal, ga bakal susah ngasih mereka susu pake dot. Kenyataannya... sangat amat sulit. Diarahin dot ke mulut mereka, mereka malah sibuk ngeong-ngeong terus. Sekalinya dot masuk, mereka gigit bentar terus dilepas lagi. Rasanya waktu itu saya udah mau nangis gara-gara mereka ga bisa-bisa juga makan. Di waktu hampir mau nyerah, akhirnya mereka ngerti minum pake dot. Saya pun senang...  :) Sehari dua hari, mereka jadi gemukan. Berganti minggu, mata mereka mulai kebuka.

Berhubung waktu itu cuma ada dua dot, terpaksa kita kasih susu tiga anak kucing itu ganti-gantian. Sayangnya susah ngaturnya karena mereka ga berhenti saling sodok menyodok rebutan dot. Alhasil, sampai mereka bisa makan nasi, sekitar 3 kepala dot jadi korban buntung digigit mereka.

Saya coba nyari-nyari nama yang bagus dan mutusin tiga nama ini cocok buat mereka : Lubo, Pink, dan Kopu. Mereka semua kucing betina.

(Dari kiri ke kanan: Lubo, Kopu, Pink)


(Lubo mati di tahun 2012, Pink tahun 2013, dan Kopu tahun 2016)
***

Hal yang ga pernah terlupakan dari Kopu adalah kebiasannya yang suka ngikutin saya setiap berangkat kuliah, jalan atau sekedar jajan ke warung. Sebenernya kebiasaan ini juga sering dilakuin beberapa kucing yang pernah saya pelihara, termasuk dua sodara Kopu. Tapi, Kopu yang paling jauh ngikutin. Rasanya kalo ga di stop tuh kucing bisa aja ngikutin saya sampe naik angkutan umum.

Terkadang karena takut dia nyasar ga bisa pulang lagi ke rumah, begitu saya keluar rumah ngeliat dia ada di halaman depan, saya buru-buru lari secepatnya biar ga diikutin. Tapi percuma... pas saya nengok, dia ikutan lari ngejar sambil kedengeran gemerincing suara kalungnya. Berhubung Kopu sering ngikutin jauh, jadinya saya giring lagi dia pulang ke rumah biarpun saya udah ngos-ngosan capek lari-lari.

Tadinya saya pikir Kopu cuma ngikutin pas  saya keluar rumah aja. Taunya, di satu sore hari pas saya pulang jalan kaki dua belokan hampir sampe rumah, sayup-sayup saya ngedenger suara ngeong Kopu. Saya buka satu headset di telinga untuk ngeyakinin suara yang saya denger.  Saya agak terkesiap pas lihat di seberang sebelah kanan, Kopu ngeliat ke arah saya masih sambil ngeong-ngeong. Saya panggil namanya pelan, dia langsung lari nyamperin. Waktu itu seneng banget pas tahu dia ngenalin saya :)



Sekarang kopu udah ga ada, tapi kenangan si kucing belang hitam putih dan juga kucing-kucing saya sebelumnya, tetap tersimpan...



No amount of time can erase the memory of a good cat... 
-Leo Dworken

Monday, September 12, 2016

Musik...Instrumental

0 comments

Headset terpasang di kedua belah telinga, musik mengalun...

Saya sering jalanin rutinitas sambil dengerin musik. Entah itu waktu duduk di depan komputer, waktu ngegambar, waktu beres-beres, atau waktu ngadepin kemacetan jakarta. Mungkin karena sering liat saya pake headset, bukan cuma satu dua kali temen-temen saya nanya “Thya lo suka denger lagu jenis apa?” “Rekomendasiin lagu dong.” Setiap ditanya begitu, rasanya ada jeda mikir jawaban apa yang harus saya bilang. Bukannya ga mau ngasih tau, saya bingung jawabnya. Akhirnya kata yang sering terucap “Tergantung. Asal lagunya enak.” “Lo ga bakal suka list lagu gue.”

Iya asal tergantung lagunya enak. Saya bisa suka musik pop, RnB, sampai rock. Dari lagu Indonesia, barat, Rusia, Jepang, Korea, Spanyol dll (yang bahasanya aja ga saya ngerti). Dari mulai Raisa, L'arc en ciel, K.Will, SNSD, Alsu, Juju, Utada Hikaru, Little Mix, Mohito, Mariah Carey, Tania Mara, Katy B, Natasha Bedingfield dll (Random). Tapi... sebenernya hampir 70% daftar lagu di music player saya itu adalah musik instrumental alias ga ada suara penyanyinya. Yap, itulah alasan saya bingung jawab pertanyaan temen yang minta rekomendasi lagu. Kebanyakan orang (di mata saya) suka sama lagu barat atau indonesia ditambah yang ada vocalisnya. Kalau saya jawab “Hmm kalo gue sukanya musik instrumen ost shigatsu wa kimi no uso. O iya lagunya Alsu yang judulnya А у моей любви juga oke. Eh ada juga musik yang enak dari pianis blablabla...” Saya yakin akan ada jeda panjang di tengah pembicaraan saya dan temen saya itu.

Saya banyak ngabisin waktu di depan laptop, ketak ketik ketak ketik. Karena itulah saya ngerasa nyaman aja ngetik sambil dengerin musik instrumental. Lagian pernah denger kan kalau lagi sensitif atau sedih, orang bakal lebih perhatian sama lirik lagunya? Mood lagi ga bagus, tiba-tiba dengerin lagu yang liriknya pas banget ‘jleb’. Udah deh tutup laptop, tarik selimut, sesenggukan.lol.

Sebagai penutup postingan, ini salah satu musik favorit dari Masaru Yokoyama.