Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Wednesday, May 9, 2018

Permen Dingin

1 comments


Pepohonan di kanan kiri jalan menari-nari tertiup angin. Rintik hujan dengan cepat berubah menjadi deras membasahi permukaan tanah. Masih tersisa beberapa karyawan di dalam gedung, termasuk aku yang lebih memilih pulang setelah hujan reda. Ada yang sibuk dengan telepon genggamnya, mengobrol, mendengarkan musik, dan aku sendiri hanya duduk termangu menatap pemandangan di luar jendela. Salah seorang rekan kerja datang ke arahku “Penghilang kantuk.” Ucapnya. Aku menatap benda yang ia letakkan di atas mejaku. Sebuah permen, rasa permen kesukaanku.
***

Aku melesat sangat cepat sampai tak menyadari ada batu besar di jalan yang kulintasi. Aku kehilangan kendali mengenderai sepeda dan jatuh terjerembab di atas tanah. Kedua lutut serta telapak tanganku dipenuhi luka. Aku memanggil ayah dan ibu diiringi isak tangis. Setelah luka diobati, tangisku masih tidak berhenti. Ayah menanyakan keadaanku.
“Nak, bagian mana yang masih terasa sakit?” Melihatnya membuat mataku kembali berair.
“Sepedanya rusak yah...” Ucapku dengan suara terbata-bata. Ayah menatapku dengan lembut.
 “Tidak apa-apa. Sepeda bisa dibeli lagi. Yang paling penting kamu baik-baik saja.”
Aku merasa lega mendengar jawaban ayah karena yang membuatku terus menerus bersedih adalah membayangkan ayah akan marah mengetahui sepeda yang baru dibelinya beberapa hari lalu sudah rusak.
“O iya, ayah punya sesuatu untukmu.” Ayah meraih tangan kananku dan meletakkan sesuatu di atasnya.
“Permen?”
“Iya, tapi bukan sembarang permen. Waktu dimakan akan terasa dingin seperti es.”
            Karena penasaran langsung kubuka bungkusnya dan memakannya. Benar yang ayah katakan, aku merasakan sensasi dingin di mulutku. “Iya. Dingiiin. Aku mau lagi.”
“Hanya boleh satu. Tidak boleh makan banyak-banyak dalam sehari. Nanti kamu bisa membeku. Brrrrr.” Ayah berpura-pura kedinginan. Aku tertawa melihat tingkah ayah. Kesedihanku pun terlupakan begitu saja. Permen dingin yang kucicipi untuk pertama kalinya di usia 7 tahun, nantinya baru kuketahui bernama permen mint.

Sejak itu sampai bertahun-tahun kemudian ayah selalu memberikan permen mint setiap kali aku bersedih. Ketika aku mendapatkan nilai rendah pada ulangan harian di sekolah, ayah menyemangatiku dan memberikanku sebuah permen mint. Ketika seorang teman baikku pindah sekolah, ayah mendengarkan keluh kesahku, memberikan sebuah permen mint, lalu mengatakan hal-hal yang membuatku tertawa kembali. Di setiap kesempatan aku sangat senang menerima permen mint dari ayah. Persis seperti pertama kali aku mencicipinya.

Di kemudian hari aku baru tahu bahwa permen mint bukan barang yang mewah. Aku bisa membelinya dengan uang sakuku di toko atau warung. Akan tetapi tak pernah sekalipun aku membelinya. Aku selalu menunggu ayah yang memberikannya. Namun, lambat laun perasaan itu berubah setelah aku menginjak usia remaja. Aku tidak merasa senang lagi mendapat permen itu.

Satu persatu temanku memiliki telepon genggam. Setiap kali mereka menunjukkannya, aku merasa kagum ingin memilikinya juga. Saat ayah pulang bekerja dari pabrik, aku mengajaknya berbicara.
“Ayah sekarang ada telepon genggam yang bisa dibawa kemana-kemana. Keren sekali yah. Teman-temanku memilikinya.” Ucapku membuka percakapan.
“Wah keren sekali.” Balas ayah sambil mengisi gelasnya dengan air putih.
“Ayah, aku juga ingin memilikinya.”
“Sementara ini pakai telepon rumah dulu ya nak. Nanti pasti ayah belikan untukmu.”
“Tapi aku inginnya sekarang yah.”
“Iya nanti ayah belikan, eh coba lihat apa ini...” Seperti biasa ayah mengeluarkan permen mint dari sakunya.
“Kapan? Ayah selalu bilang nanti nanti nanti terus. Aku ingin telepon genggam bukan permen mint!” Setelah menyelesaikan ucapanku, aku berlari ke kamar. Tak lama ibu yang mendengarkan perkataanku pada ayah, masuk ke kamarku.
“Aku sedang ingin sendiri bu.” Ibu tak mengindahkan perkataanku. Ia duduk di tepi kasur tempatku berbaring.
“Nak, jangan berkata kasar pada ayahmu. Sebenarnya ayah selalu ingin memberikan barang-barang yang kamu inginkan, tapi sayangnya penghasilannya seringkali hanya bisa menutupi biaya kehidupan kita sehari-hari dan sekolahmu.”
“Seharusnya dari awal ayah tidak berjanji padaku.”
“Jika ayah mengatakan tidak sejak awal, apa kamu bisa menerimanya?” Pertanyaan ibu membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi.
“Ibu mohon kalau kamu sudah merasa baikan minta maaflah pada ayahmu.”

Malam harinya, di waktu makan malam aku memutuskan untuk keluar kamar. Ayah duduk di meja makan, sedangkan ibu hilir mudik menaruh makanan yang akan kami santap malam ini. Aku berjalan ke arah meja makan dan duduk di sampingnya.
“Ayah... Maafkan aku.” Ayah membalasku dengan senyuman sambil mengusap-ngusap kepalaku. Ibu yang kembali dari dapur ikut tersenyum.
“Permen untukku...?” Ayah meletakkan sebuah permen di telapak tanganku.
***

Kusentuh permen mint yang tergeletak di meja kerjaku. Permen dingin yang sudah lama tidak kumakan semenjak aku merantau. Aku mendekat ke arah rekan yang tadi memberikan permen. “Maaf, tapi aku tidak bisa memakan permen mint selain pemberian dari ayahku.”
***


Thya Amida

Tuesday, May 9, 2017

Waktu Yang Menyembuhkan Luka

1 comments

Tubuhnya seketika terasa membeku, langkah kakinya  terhenti, tatapannya terpaku memandang pria dari arah berlawanan dengannya. Pria yang dikenalnya itu pun terlihat kikuk dan terdiam. Terasa ada jeda selama beberapa saat.

Ia adalah pria yang paling membuatnya bahagia, paling dinanti, dan paling terbaik. Penggalan memori, tanpa diundang seperti terpampang di depan matanya. Muncul secara acak dari awal perkenalan hingga bertahun-tahun kemudian mengisi lembaran-lembaran hidupnya. Dari penggalan memori yang menyenangkan hingga melukai hatinya. Pria itu memang pernah menjadi yang paling terbaik untuknya. Tapi tidak untuk sekarang.

Pikirannya kembali ke tempat ia berada. Seulas senyum menghiasi wajah wanita itu sebelum melanjutkan langkah kakinya. Senyum perpisahan yang dulu tak pernah tersampaikan. Senyum lega yang menandakan bahwa ia sudah bisa memaafkan yang telah berlalu. Katanya, waktu bisa menyembuhkan luka.
***


Mencoba meluangkan waktu untuk menulis fiksi pendek lagi. Kangen menuangkan imajinasi :)

Wednesday, March 29, 2017

Tekun Belajar

2 comments

Namanya Tekun Belajar. Ia adalah sahabat sekaligus teman sekelasku semasa SMA. Lulus sekolah, kami melanjutkan pendidikan di universitas berbeda. Setelah memperoleh gelar dari universitas, aku mendapat pekerjaan tidak jauh dari tempat tinggalku sedangkan Tekun memutuskan kembali ke kampung halamannya dan menjadi guru sekolah di sana. Meskipun terpisah jarak, disibukkan dengan pekerjaan, serta membangun kehidupan keluarga masing-masing, namun kami masih tetap bersahabat sampai rambut kami telah memutih. Kami suka berbicara melalui telepon, memberikan kabar, membahas kehidupan masing-masing, anak-anak yang beranjak dewasa, memiliki cucu pertama, dan topik-topik menarik lainnya. Teknologi memudahkan siapapun untuk berkomunikasi, akan tetapi mengirim pesan melalui surat paling disukai Tekun. Ia semakin sering mengirimiku surat di masa pensiunnya. Menurutnya pesan akan lebih tersampaikan jika ditulis sendiri pengirimnya.

Selain itu, satu sampai dua kali dalam setahun kami menyediakan waktu luang mengunjungi rumah satu sama lain. Aku mengenal baik istri Tekun, Ita, yang juga merupakan teman sekelas kami semasa SMA. Awalnya ia tak tertarik pada Tekun, tapi lama kelamaan berkat kegigihan dan ketekunan seperti tercermin dari namanya, Ita menerima cinta Tekun. Mereka dikaruniai seorang anak lelaki yang kini hidup mapan.

Hari ini aku sedang dalam perjalanan mengunjungi sahabatku Tekun di kampung halamannya. Masih dapat kuingat jelas hari ketika kami bertemu. Di hari pertama masuk sekolah, aku datang kesiangan beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. Sesampainya di sana sudah tidak banyak tempat duduk tersisa. Hanya ada 2 bangku kosong di baris paling belakang, dan 3 bangku kosong di baris pertama. Dikarenakan mata minus, tak mungkin bagiku duduk di baris paling belakang. Akhirnya kupilih secara acak bangku yang kutempati di baris depan. Teman sebangku itulah yang kemudian menjadi sahabatku. Sesudah meletakkan tas dan duduk di bangkuku, ia langsung mengulurkan tangan padaku “Tekun Belajar.” Ucapnya. Aku tidak mengerti hal yang dibicarakannya. “Ha? Sekarang kita memang harus belajar.” Ia tertawa. “Bukan, maksudku namaku Tekun. Tekun Belajar.” “Namamu Tekun... Belajar? Oh... Aku Ergi.” Walaupun sebenarnya aku agak terkejut mendengar namanya yang unik, aku berusaha bersikap biasa saja dan membalas uluran tangannya mengajak bersalaman.
***

Ketika melewati koridor aku sempat mendengar beberapa anak perempuan membicarakan Tekun. Sebenarnya banyak anak lainnya yang membicarakan dirinya di belakangnya. Mereka menjadikan nama unik Tekun sebagai bahan tertawaan. “Tekun, kamu jangan lupa selalu tekun belajar. Jangan tekun bermain.” Ucap seorang teman yang menurutku jelas-jelas mengejek Tekun. Tekun cuma tersenyum mendengarnya. Aku heran dengan orang tuanya yang memberikan nama seperti itu kepadanya.

“Tekun, maaf kalau kamu berpikir aku terlalu ikut campur. Apakah tidak pernah terlintas dipikiranmu untuk mengganti nama?” Tanyaku hati-hati membuka percakapan. “Namaku? Kamu pikir namaku buruk?” “Bu-bukan begitu maksudku. “Namamu unik, tapi yah... agak aneh dijadikan sebuah nama.” Kemudian Tekun pun menceritakan kisah di balik namanya. “Kedua orang tuaku tidak bisa berbahasa Indonesia, mereka hanya berbicara menggunakan bahasa daerah. Suatu hari paman, adik ayahku yang bekerja di kota, pulang ke kampung. Ia bercerita mengenai kehidupannya di kota dengan memasukkan beberapa kata dalam bahasa indonesia. Ayahku tertarik pada kata ‘tekun belajar’ yang diucapkan paman. Menurutnya dua kata itu terdengar indah, terlebih setelah mengetahui artinya. Saat ibuku mengandung, ayah berencana menggunakan kata ‘Tekun Belajar’ untuk menamai anak mereka jika yang lahir anak lelaki.” Selama beberapa saat Tekun terdiam sebelum melanjutkan ceritanya.

“Dulu di kampungku tidak ada sekolah yang berdiri.  Demi masa depanku, kedua orang tuaku meminta paman membawaku untuk bersekolah di kota. Ternyata teman-teman baru di kota justru menganggap namaku aneh. Mereka tertawa mendengar namaku...” Aku memotong kalimatnya. “Makanya sekarang ganti saja namamu. Bicarakan hal ini dengan kedua orang tuamu. Walaupun harus mengurus berkas-berkas, nantinya kamu bisa memiliki nama baru Kun.”

“Kamu belum mendengar kelanjutan ceritaku Gi. Awalnya aku sedih ditertawakan teman-temanku. Tetapi beberapa minggu kemudian tidak ada yang membicarakannya lagi. Mereka sudah terbiasa dengan namaku. Sekarang mungkin teman-teman di sekolah ini masih menertawakanku. Seminggu, sebulan, atau beberapa bulan lagi mereka pasti  bosan. Tak mungkin kedua orang tuaku berniat memberikan nama tidak baik. Terselip doa dan harapan mereka dalam nama yang diberikan kepadaku. Aku tak akan pernah mengganti namaku. Aku suka namaku Tekun Belajar.”

Setelah mendengar ucapan Tekun, aku mulai memahami perasaan dan cara pandangnya. “Maaf aku sudah berkata yang tidak-tidak. Kalau dipikir-pikir namamu juga membawa keuntungan.” Tekun mengernyitkan dahi tak mengerti. “Namamu yang unik membuat guru, dan teman-teman mudah mengingatmu. Kamu jadi populer.” Tekun tertawa mendengarnya. “Semoga aku tidak populer karena namaku saja.” Balasnya.


Sampai lulus sekolah Tekun memang tidak dikenal karena hanya keunikan namanya, tetapi juga kepintarannya. Ia selalu mendapat peringkat pertama dari kelas 1 sampai kelas 3. Teman-teman sekelas, junior, maupun senior di sekolah kami hampir semuanya mengenal si Tekun Belajar. Menurut Tekun, setiap orang yang memanggil namanya seperti pemberi semangat dan pengingat agar dirinya terus tekun dalam mencapai tujuannya.

Mengenang masa lalu kami, tak terasa aku sudah sampai di tempat Tekun. “Tekun Belajar, apa kabar? Aku ingin memberitahumu, cucuku bulan depan menikah. Sangat menyenangkan kalau kamu juga bisa berkumpul bersama kami...” Mataku mulai berair memandang tempat peristirahatan terakhir Tekun. Aku merasa sedih tak bisa lagi mendengar suara, dan menerima surat-surat berisi tulisan tangan Tekun setelah kematiannya dua tahun lalu.

***

Friday, February 10, 2017

Kenangan Indah Yang Menyakitkan

1 comments

Katanya... setiap teringat kenangan indah, selalu bisa membuat yang mengalaminya merasa bahagia. Tapi kenyataannya ada yang terasa menyakitkan sama seperti kenangan buruk. Meski dalam level atau tingkat yang berbeda. Seandainya kenangan itu tak pernah tercipta atau... paling tidak, dapat terlupakan ketika terbangun layaknya bunga tidur. Mungkin akan lebih baik.

Yah.. kata ‘seandainya’ yang muncul saja sudah menandakan bahwa kenangan indah yang selalu melintas itu, tak lagi memunculkan perasaan yang sama seperti dulu. Inilah kenangan indah menyakitkan yang dimaksud. Kamu pernah merasakannya?

Pena yang diapit jari telunjuk dan jempolnya pun berhenti bergerak. “Sepertinya tak mungkin...” Gumamnya. Matanya mulai terasa berair. Ia menghela nafas, menarik garis bolak-balik di bagian kalimat ‘kamu pernah merasakannya?’ berulang kali, hingga warna hitam pekat menutupi semua bagian kalimat itu. Setelahnya, ia pun kembali menggerakkan penanya membentuk huruf demi huruf di atas permukaan kertas.

Kenangan yang begitu berarti untuk satu pihak, sementara yang lain acuh begitu saja seakan tak pernah ada yang terjadi. Inilah kenangan indah menyakitkan yang dimaksud. Kenangan yang membuat dada terasa sesak ketika datang atau melewati tempat yang sama. Inilah kenangan indah menyakitkan yang dimaksud.

Gerakan tangannya kembali terhenti. Ia merenung sejenak. Setelah beberapa saat, ia melanjutkan kata-kata yang ditulisnya.

Kuharap kamu tak pernah merasakannya...
***

16:07 WIB, 10-2-2017. Thya

Jaringan internet lagi bermasalah, so saya memutuskan untuk menuliskan cerita fiksi super pendek ini sore tadi. I hope you like it :)

Wednesday, October 29, 2014

Flash Fiction

0 comments

Lagi-lagi memakan waktu cukup lama bagi saya untuk dapat menulis blog ini.

Seperti judul yang saya cantumkan, kali ini saya ingin membahas mengenai 'Flash Fiction'. Saya pribadi belum lama ini mengenal flash fiction, Tanpa sengaja saya mengenal salah satu istilah short fiction ini ketika melihat kontes menulis global. Biasanya, saya menulis cerita fiksi dengan jumlah 2500-5000 kata. Agak terkejut begitu melihat persyaratan kompetisi itu tidak lebih dari 100 kata. Saya langsung terpikir, bagaimana caranya bisa menulis satu cerita tidak lebih dari 100 kata. Terutama dalam bahasa inggris yang mengandung to be sehingga dihitung sebagai satu kata terpisah. Untungnya saya berhasil menyelesaikannya, nyaris saja melebihi 100 kata. 

Flash fiction seringkali disamakan dengan Short story. Padahal keduanya berbeda. Nah kali ini saya ingin share informasi yang saya peroleh mengenai perbedaan keduanya (dari http://www.craftingfiction.com/2011/02/flash-fiction-vs-short-stories-whats-the-difference.html) :



  • Short story (SS) pada umumnya berkisar antara 500-10.000 kata, sedangkan Flash fiction (FF) berkisar 100-1000 kata. Sebenarnya dari kisaran katanya saja sudah sedikit membingungkan untuk melihat perbedaan jelas antara SS dan FF ini. Jadi bagaimana membedakan SS 500 kata dengan FF yang juga 500 kata?


Untuk itulah, perlu dilihat dari strukturnya.



  • SS memiliki struktur dasar introduksi, aksi yang meningkat, klimaks, aksi yang menurun, dan resolusi sedangkan FF mengandung konflik, resolusi, dan plot yang lebih sederhana. Dengan kata lain keduanya berbeda dalam hal kedalaman karakter tokoh, dan perkembangan jalan ceritanya. 



Sebagai penutup, turut saya sertakan Flash fiction yang saya coba buat. Semoga sudah memenuhi kriteria sebagai FF. hehe


KESIANGAN

“Ya ampuuun! sudah jam ½ 7! Gawat, kesiangan!!!”
Segera aku bangkit, memasukkan buku pelajaran hari ini ke dalam tas, bergegas mandi, dan mengenakan seragam. Ayah dan ibu yang sedang menonton televisi melihatku keheranan.
“Kamu mau kemana?”
“Ya sekolah dong bu, ini sudah jam 7. Kenapa aku gak dibangunin. Kesiangan jadinya. Hari Senin lagi..” Keluhku panjang lebar sambil mengenakan sepatu.
“Sudah ya, aku berangkat.”
Begitu membuka pintu rumah, kulihat langit gelap. Aku baru menyadari situasi sebenarnya. Ayah dan ibu tertawa terbahak-bahak begitu melihatku kembali. Ternyata sekarang jam 7 malam hari Minggu…



Wednesday, February 5, 2014

Satu Cinta Empat Tawa

0 comments

Ketika merapikan folder di laptop dan mendelete file-file yang sudah tidak penting, saya menemukan cerpen-cerpen yang saya buat dulu. Salah satu cerpen yang saya buat berjudul "Satu Cinta Empat Tawa" yang akan saya posting kali ini. Awal mula membuat cerpen ini adalah untuk perlombaan. Saya sendiri lupa, cerpen ini sempat saya kirimkan atau tidak. hehe.. Kalau tidak salah, saya membuatnya sekitar tahun 2012 dalam waktu 2 jam. Sebenarnya ceritanya tidak spesial dan mungkin sedikit memaksa. Selain itu, masih banyak kata-kata yang salah eja, maupun tidak tepat penempatannya, tapi saya tidak ingin mengeditnya karena ingin menunjukkan hasil tulisan saya dua tahun yang lalu.
Langsung saja...

Satu Cinta Empat Tawa
Cinta.. Jika itu adalah satu kata untuk mengungkapkan rasa sayang untuk seseorang atau beberapa orang yang membuat kita bahagia ketika berada dekat dengan mereka. Aku pernah merasakannya. Aku mencintai seseorang, aku mencintai sahabatku. Akan tetapi, jika cinta itu diutarakan untuk keluargaku. Sayang sekali, aku tidak pernah merasakannya sampai saat ini…
“Dey, kamu semester ini dapat IP[1] berapa?” Ucap ibuku. “3,4 bu”  Aku tahu apa yang akan diucapkan ibu selanjutnya. “Kok, tidak berbeda jauh dari semester kemarin.” “Segitu IP Deyza naik 0,3 bu.” “Yah tapi kan, kalo naiknya lebih besar lagi, itu lebih baik. Anak teman ibu dapet IP sampai 3,8 tuh.” “Kalau begitu, bagaimana kalau anak teman ibu itu, ibu angkat saja jadi anak. menggantikan posisi Deyza?” Tanpa melihat reaksi ibu, aku berlalu menuju kamar. Sudah malas diam diruang keluarga mendengarkan ocehan ibuku lebih lama. Ibuku bukanlah tipe orang yang mudah marah, bahkan jarang sekali aku melihatnya marah. Ia ibu yang sangat baik, sayang kekurangannya hanya satu. Ibuku selalu menginginkan prestasi anaknya yang tinggi, dan sempurna. Yang membuatku semakin kesal adalah Ia selalu membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Seandainya aku memiliki ibu yang selalu mendukung dan bangga atas usaha kerasku untuk belajar..
Sore harinya, suara adikku, Sera membangunkanku. “Dey, bangun, bangun, banguuun!” Ucapnya sambil mengguncang-guncang tubuhku. “Apaan sih, tidak usah teriak-teriak. Telingaku sakit!” “Teriak-teriak saja kamu susah bangun, apalagi dibangunkan dengan lembut. Eh aku pinjam uang seratus ribu dong Dey.” “Kenapa minta sama aku? memangnya kamu pikir aku ini Bank, minta sama ayah.” “Jangan pelit sama adik sendiri Dey.. Aku tidak berani minta duit langsung ke ayah. Kalau ke ibu, tidak mungkin…yang ada aku malah dimarahi.” “Aku tak peduli. Lagipula pasti uang itu kamu gunakan untuk pergi main. O iya, sejak kapan kamu jadi adikku? bukannya kamu selalu memanggil  namaku saja. hoho” Aku kembali menarik selimut.  “Huh! Dasar, nenek pelit!” “Heh! bicara sembarangan. Kamu semakin hari semakin menyebalkan. Aku benci punya adik sepertimu!” Sera terdiam sejenak, kemudian berkata dengan nada suara yang sangat dingin. “Memangnya kamu saja, sekarang aku jadi malas punya kakak sepertimu.” Ia pun keluar membanting pintu. Tatapannya tadi sedikit aneh, apa mungkin ucapanku tadi keterlaluan? Ah sudahlah salahnya sendiri menggangguku. Perbedaan umurku dengannya hanya satu tahun, tapi dia selalu bertindak seakan-akan kami seumuran. Setiap hari kami selalu bertengkar dikarenakan hal-hal yang sepele. Aku tidak mempermasalahkan dia memanggilku tanpa panggilan kakak, yang paling aku benci dia selalu menghina dan menjahiliku. Seandainya aku memiliki adik yang menghormati dan menyayangiku…
Malam harinya, Kami makan bersama di meja makan. Ayah, Ibu, Aku, dan Sera. Kami berkumpul lengkap hanya ketika makan malam dan akhir pekan. Setiap hari ayah berangkat kerja pagi-pagi sekali dan baru tiba di rumah ketika sudah malam. Ayahku bukan tipe orang yang banyak berbicara, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ibu. Entah bagaimana akhirnya mereka bisa menjadi pasangan suami istri. Jarang sekali aku berbicara dengan ayah, tanpa terlebih dahulu ayah yang membuka pembicaraan. Aku merasa segan padanya. Dari kecil aku dan Sera lebih dekat dengan ibu. Sera yang sehari-hari sangat cerewet, jika sudah berhadapan dengan ayah akan diam seribu bahasa. Seandainya aku punya ayah yang mau meluangkan waktunya untukku dan sering-sering mengajakku berbicara…
***
“Kok kamu tertawa sih Nes..” “Habisnya lucu, setiap curhat tidak jauh-jauh mengeluhkan keluargamu. Sekarang cerita tentang adikmu.” “Lucu apanya, aku sangat benci dia.. Seandainya aku mempunyai adik seperti adikmu. manis, baik, dan yang pasti sayang pada kakaknya.” “Perbedaan umurku dengan adikku kan lumayan jauh. Jangan dibandingkan dengan adikmu Dey. Masing-masing orang memiliki sifat yang berbeda. Lagipula kalau menurutku, Sera itu hanya kasar dimulut. Di hatinya dia sangat menyayangimu.” “Hah? Sangat tidak mungkin.” “Segala kemungkinan itu selalu ada loh Dey. Eh iya Dey, sore ini jadi ngerjain tugas dirumahku?” “Jadi Nes.” “Kamu mau pulang ke rumah terlebih dahulu atau langsung ke rumahku?” “Langsung saja ke rumahmu Nes. Aku sudah membawa laptop kok.” “Sip kalo begitu.”
Sore harinya, aku sudah berada di rumah Nesa. Ibunya menyambut kedatangan kami. “eh, ada Deyza. Apa kabar Dey? lama tak bertemu.” “Iya tante,  keadaanku baik.“ “Ma, kita langsung ke atas ya, mau ngerjain tugas.” “Permisi tante.” “Iya.” Jawab Ibu Nesa. Setengah jam kemudian, ibu Nesa membawakan kue ke kamar. “Tidak usah repot-repot tante.” “Tidak merepotkan kok. Kebetulan tadi tante buat bolu.” “Ayo, kalian makan dulu. Baru lanjut lagi belajarnya.” “Iya tante. terima kasih banyak.” “Ngomong-ngomong kalo tante boleh tahu, kamu dapat IP berapa semester kemarin Dey.” “IP Deyza besar ma” Sahut Nesa sambil mengunyah kue. “Nesa bohong tante, IP-ku masih lebih kecil dari Nesa. 3,4 tan.” “Wah itu sih besar, Hanya berbeda 0,1 dari Nesa. Hebat.. Semakin semangat belajarnya ya.” “Iya tan.” Aku sangat bahagia tante memujiku. “Baiklah, tante tidak mau mengganggu lebih lama belajar kalian. tante turun ya. Kalau bolunya sudah habis, ambil lagi saja ke lantai bawah ya Nes.” “Iya, ma.” Jawab Nesa.
“Nes, ibu kamu baik banget ya. Ingin sekali aku mempunyai ibu seperti ibumu” “Hahaha, kamu ada-ada saja Dey. Tadi ingin mempunyai adik seperti adikku, sekarang ingin mempunyai ibu, seperti ibuku. Nanti lama-lama kamu ingin mempunyai ayah seperti ayahku juga Dey.” “Mungkin..” Jawabku menanggapi serius ucapan Nesa. “Astaga Dey, kamu tidak boleh seperti itu.. Walaupun terkadang menurutmu, keluargamu itu menyebalkan, tetapi sebenernya mereka sangat menyayangimu.” “Tidak mungkin..” “Dey, kamu harusnya bersyukur memiliki keluarga yang lengkap. Lagipula kalau kamu merasa ada tindakan mereka yang menyakitimu. Berhentilah mengeluh dan berandai-andai. Katakanlah secara langsung dengan cara yang baik. Aku yakin mereka akan mengerti. Keadaan diluar diri kita tidak akan berubah kalau tidak dimulai dari diri kita sendiri Dey.” Aku terdiam beberapa saat merenungi perkataan Nesa. “Aduh Dey maaf ya kalau kata-kataku ini terkesan menggurui.” “Tidak apa-apa Nes, makasih atas sarannya.”
***
“Dey, kamu kemana saja hari ini? masa iya kuliah sampai malam seperti ini.” Ucap ibu. “Aku habis mengerjakan tugas di rumah Nesa bu. Tadi aku sudah telepon ke rumah, tapi tidak ada yang angkat.” “Ooh, Ya sudah kamu makan sana. Ibu sudah masak sop ayam.” Tanpa menaruh tas terlebih dahulu ke kamar, aku langsung menuju meja makan. “hmm. Loh mana sopnya bu?.” “Memangnya tidak ada? yang dimangkuk biru.” “Mangkuk biru sih ada, tapi tidak ada isinya bu.” “Wah, sepertinya adikmu menghabiskannya. Sera kamu menghabiskan sop ayam buat kakakmu ya?.” Ucap ibu dengan suara nyaring. “Iya bu, habis aku sangat lapar.” Teriak Sera dari lantai atas. Padahal nasihat Nesa tadi sudah mulai kupertimbangkan, tetapi tindakan Sera kali ini membuatku malas berbaikan dengannya. Setiap hari Sera selalu membuat masalah. Sudah pulang dengan keadaan sangat capai, dia malah membuatku jengkel. “Ya sudah ibu buatkan telor dadar saja ya.” “Hmm” Jawabku. Apa boleh buat, daripada perutku kelaparan dan tidak bisa tidur.
Ruang makan kami terletak dibelakang ruang keluarga tanpa ada penghalang tembok, sehingga aku masih bisa menonton tv dari meja makan. Ibu sedang duduk di sofa menonton berita. Berita yang ditontonnya tentang prestasi mahasiswa yang menciptakan robot. “Dey, lihat tuh. Mereka hebat sekali. Menciptakan robot.” “Mereka itu anak teknik bu. Masa iya Dey yang dari jurusan komunikasi bikin robot juga.” Gerutuku.  “Yah tidak harus robot juga, misalkan kamu bikin sebuah buku. Yang terpenting kamu menyumbangkan sesuatu dibidangmu nak.” “Iya, nanti ya bu. Dey sudah selesai makan, sekarang mau tidur. Selamat malam bu.” Malas mendengar lebih lama ceramah ibu. Sekarang Ibu yang membuatku semakin jengkel. Semua nasihat Nesa hilang dari kepalaku.
***
Sudah dua minggu aku mendiamkan Sera semenjak kejadian ia menghabiskan sop ayamku. Saat dia datang ke kamar dan menjahiliku, aku tidak membalas ucapannya. Kupikir jika aku terus meladeni ucapannya, dia malah semakin senang. Oleh karena itu, kuputuskan untuk tutup mulut saja. Meskipun ingin sekali membalas ucapannya, aku berusaha terlihat setenang mungkin dari luar tak memperdulikannya. Dan kupikir cara ini berhasil. Sudah beberapa hari ini, Ia tidak menjahiliku. Bahagianya.
***
Hari ini, sebelum berangkat kuliah. Aku pergi ke SMA tempatku dulu bersekolah. Aku membutuhkan fotokopi legalisasi ijazah untuk keperluan kampus. Semoga tidak bertemu Sera. Sera juga bersekolah disini, Ia kelas 3. Usai melegalisasi, aku menyempatkan diri untuk makan dikantin. Rindu jajanan masa sekolah. Sedang makan bubur ayam dengan lahapnya, tiba-tiba ada suara yang menyapaku. “Maaf, kakak ini kakaknya Sera ya?” aku menoleh. Bagaimana dia bisa tahu? Aku mengangguk. “Pantesan mirip. aku Lisa temennya Sera. Salam kenal. Sera sering cerita soal kakak loh.” Pasti Sera sering menjelek-jelekkanku pada teman-temannya.
“Ooh. Halo Lisa. Dia cerita apa? Pasti menjelek-jelekkanku ya?” “Tidak kok ka, dia malah sering memuji kakak.” Aku sedikit terkejut mendengarnya. “Oh ya? dia mengatakan apa?” “Ah, aku tidak enak memberitahu tanpa seizin Sera.” Terus kenapa kamu memberitahuku dari awal, batinku. “Yang pasti Sera bangga sama kakak. Kakak sangat berbakat dan berprestasi. Dia ingin seperti kakak.” “Haha, mana mungkin dia bilang seperti itu.” “Seriusan kak.  O iya, hari ini Sera tidak masuk. Sera sakit apa ka?” “Hah? dia tidak masuk?” “Loh, kakak tidak tahu?” Bel berbunyi. “Wah sudah bel, Ka aku masuk kelas yah. Sampai jumpa. O iya, titip salam buat Sera. Semoga lekas sembuh.” I..iya, terima kasih Lisa.” Lisa membalas dengan senyuman. Setelah membayar makanan, aku bergegas pulang ke rumah. Sepertinya hari ini aku tidak akan kuliah.
Sesampainya dirumah, ibu menatapku heran “Loh, kamu tidak kuliah Dey?” “Tidak, Sera ada dimana bu?” “Dikamarnya. dia sakit.” Aku bergegas menuju kamarnya. Begitu aku masuk, Ia sedang terbaring lemah ditempat tidur menoleh padaku. “Mau apa masuk ke kamarku. Sana-sana pergi.”  Aku tidak memperdulikan ucapannya dan langsung berhambur memeluknya erat. “Ih, apan sih ini. geli tahu. lepasin.” ucapnya memberontak. “Cepat sembuh yah adikku. Nanti kalau ada pelajaran yang kamu tidak bisa. tanya saja sama kakak.” Sera hanya menatapku bingung. “Yasudah kamu istirahat lagi saja. Kakak keluar ya.” Aku kembali kekamarku. Terdiam untuk beberapa saat. Masih tidak percaya apa yang kulakukan barusan. Aku sangat bahagia, ternyata selama ini sebenarnya Sera bangga dan ingin menjadi sepertiku. Sehari-hari dia selalu mengejekku hanya untuk mencari perhatianku. Yah, benar apa yang dikatakan Nesa. Apa yang terlihat diluar belum tentu mencermikan isi hati.
Baiklah, kuputuskan aku akan berubah. Selama ini, aku tidak pernah mencoba berkomunikasi baik-baik dengan keluargaku. Yah, semua keadaan tidak akan berubah begitu saja tanpa ada usaha. Aku selalu mengeluhkan tindakan mereka, tetapi tidak pernah mengatakan secara langsung pendapatku. Akan kucoba berbicara jujur kepada ibu dan ayah. Mengatakan isi hatiku sebenarnya…
***
“Bu, aku ingin berbicara dengan ibu. ada waktu?” Ibu yang sedang duduk menonton tv, menoleh. “Iya, ada apa Dey.” Ibu mematikan tv dan menatap ke arahku. “Bu.. Ibu tahu tidak, Dey sangat tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Ketika ibu membanding-bandingkan Dey, Dey sakit hati sekali... Dey tahu, anak-anak teman ibu, mahasiswa yang ikut perlombaan yg ibu lihat di tv adalah orang-orang yang lebih berprestasi dari Dey. Ibu tahu, Dey juga berusaha mati-matian agar ibu bangga sama Dey. Tapi apa hasilnya…Ibu tidak pernah mengatakan hal yang membuat Dey bahagia, justru membuat Dey semakin sedih. Dey tidak mungkin memiliki persis prestasi setinggi orang-orang yang ibu sebutkan. karena Dey bukan mereka. Tetapi, Dey yakin suatu hari nanti ibu akan bangga sama Dey. Dey akan berprestasi dibidang Dey bu.” Ibu hanya terdiam mendengarkan ucapanku. “Dey.. ibu tidak pernah berniat menyakiti hati Dey dengan ucapan ibu. Ibu hanya ingin membuat Dey lebih termotivasi dan semakin berprestasi. Menjadi orang yang sukses… Dulu nenekmu sering membandingkan ibu dengan orang lain. Ibu sendiri tidak suka dengan cara nenekmu. Tapi tanpa sadar, ibu menerapkan aturan yang sama padamu dan Sera. Maafkan ibu nak.” Kulihat mata ibu berkaca-kaca. Mataku mulai berair. Kami saling berpelukan. “Ibu janji tidak akan berbuat seperti itu lagi.” “Makasih ya bu” Ucapku dengan air mata terus mengalir. Sebegitu mudahnya suatu masalah dapat terselesaikan dengan adanya saling keterbukaan dan pengertian. Seandainya aku berinisiatif melakukannya dari dulu.
***
Hari Minggu yang cerah, bergegas aku bangun, berlari menuju kamar Sera. “Sera, banguuun” “Sana pergi! Aku masih ngantuk.” Jawabnya. Aku menutup mukanya dengan selimut. “Ih, apaan sih!” Gerutunya. Aku hanya membalas dengan tertawa, sekali-kali aku ingin  mengerjainya balik. Kemudian aku berlari keluar turun ke lantai bawah. Kulihat ayah sedang membaca Koran. Kalau ibu, sepertinya sedang memasak di dapur. Menghela napas dalam, aku berjalan perlahan ke arah ayah. “Selamat pagi Ayah..” Ayah ,menoleh. “Pagi.” “Ayah, kemarin bagaimana dikantor? pasti ayah pulang capai sekali ya? Dey pijitin ya?” ayah menatapku bingung. “Ayah baik-baik saja. Sedikit lelah, tapi tidak terlalu terasa. Karena setiap bekerja ayah ingat kalian.” Ucapnya lembut. Meskipun saat berbicara sedikit kaku. Sungguh ia tidak terlihat menyeramkan lagi. Aku tersenyum. “Ayah hebat!” Ayah menatap wajahku beberapa detik. Jujur aku masih sedikit takut melihat tatapannya. Namun, tak kusangka kemudian ia tersenyum. Ia tersenyum! Senyuman yang jarang sekali kulihat diwajahnya. Perbincangan kami terus berlangsung sepanjang pagi itu.
Dikemudian hari, aku baru tahu dari ibu. Ayah sangat pendiam karena orang tua ayah mendidiknya dengan keras diwaktu ia masih kecil. Aku sungguh kasihan pada ayah. Sebenarnya ayah sangat menyayangi kami sekeluarga. Namun kini aku sangat bahagia, perlahan ayah sudah mulai sering berbicara padaku dan Sera meskipun masih sedikit kaku.
***
Sudah beberapa bulan berlalu. Aku sangat bahagia. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga lengkap yang terdiri dari ayah, ibu, dan Sera. Aku sangat mencintai mereka! Dan kuyakin mereka pun merasakan hal yang sama. Terkadang, tanpa sadar ibu masih membandingkanku dengan orang lain. Namun, aku tidak lagi mengeluh melainkan mengingatkannya langsung secara baik-baik. Aku memakluminya, pasti sulit merubah kebiasaan ibu secara sekaligus. Aku sudah jarang bertengkar dengan Sera. Meskipun umurnya tidak berbeda jauh dariku, ia masih membutuhkan sosok seorang kakak. Ayahku, sudah sering berbicara ketika kami berkumpul. Terakhir, atas inisiatifnya sendiri, liburan semester ini dia mengajak kami berlibur ke Thailand. Sungguh senang hatiku. Berkat cinta, kini kami lebih sering tertawa bersama.
Yah perubahan itu tidak akan terjadi jika aku tetap mengeluh. Aku yang harus berubah, baru keadaan disekelilingku akan berubah. Kunci nomor satu dalam hubungan manusia adalah komunikasi yang baik. Perubahan dapat terjadi jika kita mau saling mendengarkan dan saling memahami…
***




[1] Indeks Prestasi, penilaian prestasi mahasiswa selama masa kuliah.



Sunday, January 6, 2013

Story 3

0 comments



3

“Pertemuan seringkali terjadi di tempat, waktu, dan kejadian yang tak terduga..”
                                                                                                                       
2008

“Cepetan Lari!! Udah kesiangan masih lambat!” “Mana buku tugasnya?!!” Kamu mau ngelawan?!” “Kamu udah mahasiswa! Harus gesit!” “Name tag kamu ini kenapa rusaaak?!”. Sungguh melelahkan mendengar omelan-omelan senior, beginikah penderitaan jadi mahasiswa baru, untungnya ini hari terakhir ospek, pikirku. Setelah mengikuti serangkaian acara ospek, aku bergegas membereskan isi tasku dan secepatnya pulang. Rumahku lumayan jauh dari kampus, oleh karena itu untuk sampai ke rumah perlu naik kereta, lanjut naik satu kali angkutan umum. Tidak bisa menahan rasa kantuk, aku pun tertidur di kereta. Untungnya aku berhenti di stasiun terakhir, sehingga tidak perlu khawatir terlewat ke stasiun lain.
Tiga puluh menit kemudian aku sampai, keluar dari stasiun kemudian aku menyetop angkutan. “Untung angkutannya masih kosong, aku bisa meluruskan kakiku yang pegal disini” pikirku. Baru berjalan beberapa meter, sudah ada penumpang baru. Aku pun segera menurunkan kakiku dari kursi didepanku. Ternyata penumpang itu seorang pria muda. Sepertinya ia menyadari aku sedang melihat kearahnya, kemudian ia juga melihat ke arahku. Aku sangat malu, aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain.
 Sepuluh menit kemudian aku sampai di depan komplek perumahanku, aku pun merogoh tas mengambil dompet. “Loh, mana dompetku?’ Aku merogoh semakin dalam tasku, tapi tiba-tiba jari-jariku keluar dari tas, ada bekas siletan di tasku! Sepertinya aku kecopetan. “Pak, maaf dompet saya g ada, sepertinya hilang di kereta. Bisa ga lain kali saya bayar?” Ucapku terbata-bata. “Lah memangnya itu urusan saya! Kalau mau naik angkutan siapkan uang lebih dulu! Udah tau dompet ilang masih berani naik angkutan. Udah niat ga byar dari awal ya?” Bentak supir angkutan. “bu-bukan begitu..” Ketika mengucapkannya aku hampir menangis. “Pak, ga perlu berbicara seperti itu, dia ga mungkin berbohong.. Biar saya yang bayar ongkosnya, mbak langsung pulang saja” Ucap pria muda itu. Ternyata pria yang tadi sempat aku perhatikan mendengar pembicaraanku dengan supir. “Terima kasih mas..” Ucapku. “Sama-sama..” Jawabnya. Angkutan itu kemudian berlalu. “Ia pria yang baik, lain kali kalau bertemu lagi aku harus membalas kebaikannya.. apa mungkin bisa ketemu lagi ya?”Akupun langsung berjalan masuk ke dalam kompleks.

***

Kuliah hari pertama, bagiku… cukup menyenangkan. Aku berkenalan dengan teman-teman baru. Aku menikmati pelajaran hari ini. Mungkin hal ini dikarenakan jurusan yang aku ambil adalah minatku. Yah, sejak kecil aku menyukai semua hal tentang psikologi. Oleh karena itu, begitu masuk kuliah tak ragu aku mengambil jurusan psikologi. Begitu kelas berakhir,aku pergi ke perpustakaan. Aku sangat suka membaca buku. Disana, aku pergi ke rak buku-buku bahasa jepang. Yah selain psikologi, jepang adalah hal yang menarik minatku. Tak lama kemudian aku menemukan buku yang menarik, aku pun mengambilnya dan mencari tempat duduk untuk membacanya. Ada satu tempat kosong di sebelah mahasiswa yang sedang asik dengan laptopnya. “Permisi, bangku ini kosong?” tanyaku. Ia pun menoleh “Ya, kosong kok. Silahkan” Jawabnya. Sempat selama beberapa detik aku diam memandang wajahnya. Ternyata dia pria yang membayarkan ongkosku waktu itu. Aku memberanikan diri untuk menyapanya, “Mas, masih inget saya ga?” tanyaku. Ia pun kembali menoleh dan melihatku seksama “Ooh, kamu mbak yang waktu itu.. ternyata kuliah disini juga?” Ucapnya. “Iya mas,hehe. Tapi saya maba..Oh iya.. aku mau ngembaliin duit mas yang waktu itu” Ucapku sambil mengeluarkan dompet. “Ga usahlah, aku emang ikhlas mau nolong kamu waktu itu” Balasnya. “Tapi aku ga enak mas” “Ga usah kakulah, enak-enakin aja” Ucapnya sambil tersenyum. “Kalau gitu, sekali lagi makasih ya mas” Ucapku tersipu malu. “Oh iya, nama mas siapa?” “Regi, kamu?” “Zahra”. Kemudian obrolan kami terus berlanjut. Tidak hanya baik hati, dia pria yang menyenangkan. Lembaran baruku dimulai..lingkungan baru, dan teman-teman baru, bahkan mungkin kisah cinta baru..

Saturday, January 5, 2013

Story 2

0 comments



Untuk bagian kedua, ceritanya lebih pendek lagi dari cerita yang pertama.. 

2
“Jatuh cinta dapat terjadi dalam waktu yang singkat, tapi butuh waktu yang lama untuk melupakannya..”
     2005
Sekarang aku sudah menjadi siswa kelas 2 SMA, sudah tiga tahun Qeira pergi dari kehidupanku. Semenjak dia pergi, sudah beberapa kali aku berpacaran dengan wanita lain. Sedikit demi sedikit aku sudah mulai bisa melupakannya.
Setelah pelajaran berakhir, aku langsung cepat-cepat keluar kelas. Tadinya aku berniat langsung pulang ke rumah, tetapi begitu melewati taman sepertinya nyaman duduk sambil memandangi pemandangan terlebih dahulu. Aku pun mencari spot yang tidak terlalu ramai. Ketika sedang asik melihat burung-burung terbang di sekitar, tiba-tiba aku dikagetkan suara tangis anak kecil yang terjatuh dari sepeda. Sepertinya orang tuanya tidak ada di sekitar taman, lantas aku pun bangkit berdiri dan berjalan ke arahnya. Tapi ada seorang ibu dan anak kecil perempuan yang datang ke arahnya lebih dulu. Anak kecil perempuan itu mengeluarkan plester luka dari tasnya, dan memasangkan di kaki anak laki-laki itu. Ibu itu tersenyum melihat kebaikan hati anak perempuannya. Pikirku, pasti ia sangat bangga mempunyai anak seperti itu.
Melihat kejadian itu, aku jadi teringat masa laluku ketika masih duduk di bangku SD. Kejadian yang persis sama, tetapi anak perempuan yang menolongku hanya seorang diri, badannya lebih tinggi dariku. Tampaknya umurnya lebih tua dariku. Hal lucu yang kuingat adalah ketika ia menolongku, ia mengucapkan jampi-jampi di lukaku. Ia berkata samabil memasang plester di dengkulku, “Luka,luka cepatlah sembuh!”. Mengingat hal itu kembali, aku jadi tersenyum sendiri. “Dia anak perempuan yang lucu, sayang aku tidak sempat menanyakan namanya.. Ada dimana yah dia sekarang?”.

Friday, January 4, 2013

Cinta Pertama

0 comments

Saya adalah jenis orang yang suka sekali berimajinasi. Dari kecil jika ada waktu senggang, kadang-kadang dalam pikiran saya terlintas pikiran untuk membuat cerita. Begitu saja langsung muncul tema, tokoh-tokohnya, setting bahkan seperti di film-film ada background musicnya..haha..Dulu kira-kira waktu saya masih kelas 1 sma pernah bikin cerita yang ditulis tangan di buku tulis (dulu belum punya laptop sendiri) niat awalnya sih pengen bikin novel (gaya banget). Banyak halaman di buku tulis itu hilang, makanya jadi ga terselesaikan juga sampe sekarang. Sebenarnya, permasalahan utama saya dalam menulis, yaitu saya bisa membuat cerita selancar mungkin dalam pikiran saya, tapi entah kenapa, begitu niat menuangkannya dalam bentuk tulisan. Susahnya minta ampun.

Waktu semester kemarin lagi jenuh-jenuhnya ngerjain tugas, saya iseng-iseng ngetik-ngetik yang ada di pikiran saya, tau-taunya jadilah beberapa cerita pendek. Yaah ceritanya sih bisa dibilang standar, bosenin, ceritanya loncat-loncat n cara penulisan saya buruk, tapi saya pengen share disini. Karena ini merupakan karya tulisan kedua saya setelah sekian lama.hehe. 

Langsung saja, my first story .. :)


1
“Diantara orang-orang yang mengisi dan mewarnai kehidupan..hanya ada seseorang yang menjadi tambatan hati..”
                                                                                                                        2002
“Selamat siang! Halo teman-teman… namaku Qeira! Salam kenal..” Ucap Qeira sambil tersenyum. Melihat cara siswa baru itu berdiri, berbicara, dan tersenyum, aku berpikir dia gadis yang manis.  “Baiklah, Qeira kamu bisa duduk di kursi sebelah sana” ucap pak guru.  “Baik pak” Jawab Qeira sambil melangkahkan kaki ke arah bangku yang ditunjuk pak guru. Bangku yang tepat berada disebelah kananku. Pelajaran pun dimulai.. Ketika membuka buku, aku sedikit dikagetkan oleh siswa baru  itu. “Halo teman sebelah, kenalan dong..namaku Qeira, kamu?” tanya Qeira tersenyum sambil menjulurkan tangan.  “Regi..” balasku singkat.  Aku sedikit terkejut, dia mengajak bicara terlebih dulu, yah itulah pertama kalinya aku melihat senyuman manis Qeira, dan itulah awal mula kedekatanku dengannya.

***

Tanpa terasa,sudah tiga bulan Qeira menjadi murid di sekolahku. Dan kami pun sudah mulai akrab. Dia adalah gadis tercantik yang pernah aku lihat. Mungkin itu merupakan perkataan gombal. Tapi aku tidak peduli. Jika harus di deskripsikan dengan kata-kata, Qeira adalah gadis riang dan humoris, baik, ramah, dan masih banyak kelebihan yang dimilikinya. Bisa dikatakan aku jatuh cinta padanya..  “Cinta” mungkin itu satu kata yang terlalu serius bagi anak SMP sepertiku. Tapi itulah yang aku rasakan..
Ketika jam istirahat, Qeira datang ke arahku, “Gi, katanya Laruku mau tampil di Indonesia!!” Ucap Qeira “Ooh, aku sudah tau, tapi tiketnya mahal banget Qei. Aku gada uang untuk beli, lagian sekarang pasti udah sold out” Jawabku. “Taraaa, lihat ini” Tunjuk Qeira.  “Hahh?!! Itu kan tiket Laruku! Kamu dapet darimana tiket itu?” tanyaku.  “Kakakku dapet bonus dua tiket ini dari temennya, tapi dia g terlalu suka lagu Jpop. Jadinya dia kasih ke aku deh” Jawab Qeira dengan nada riang. “Wah, selamat yaa Qei..” Ucapku. “ehmmmmm kamu mau ga nemenin aku nonton bareng?”Tanya Qeira. Aku terkejut mendengar ajakan Qeira. “Kalo kamu ngizinin, tentu aja aku  mau”. “Kalau gitu, sampai ketemu hari minggu yaah” Ucap Qeira. “Oke..!” Jawabku bersemangat.
***
Hari minggu pun tiba, Aku bangun pagi-pagi sekali. Mempersiapkan penampilan terbaikku. Usai sarapan, aku langsung bergegas pergi menuju rumahnya. Tak lama menunggu di teras rumah Qeira, ia muncul. “Hai gi, maaf ya aku lama.hehe” Ucapnya tersipu malu. “Ga pa-pa kok, btw hari ini kamu cantik banget..”Ucapku.  Mendengar ucapanku itu, kulihat wajah Qeira memerah. “Apa sih Gi, jangan bikin aku malu deh, langsung pergi yuk..”  Aku membalas dengan anggukan.
Di tempat konser, kami sangat menikmati lagu-lagu dan penampilan yang dibawakan Laruku. Meskipun sedikit gelap, sesekali aku melirik wajah Qeira, ia sangat menikmati lagu yang dibawakan Laruku. Sempat mata kami berpas-pasan, kemudian dia tersenyum. Malam itu Qeira sangat mengagumkan.
***
Semakin berjalannya waktu, kami pun semakin dekat. Sampai-sampai sudah tersebar gosip di antara siswa-siswa bahwa kami berpacaran. Sejujurnya aku sangat senang mendengar gosip itu, meskipun sebenarnya hubungan kami belum sampai taraf  berpacaran, tetapi juga bukan sekedar teman biasa.. Kami sering pergi bersama, menyukai band yang sama, makan bersama, dan belajar bersama.. itu adalah hal yang paling membahagiakan yang aku rasakan. Entahlah bagaimana dengan Qeira, apakah dia juga senang atau kesal mendengar gosip yang beredar itu. Perasaan Qeira yang sampai saat ini tidak terbaca, apakah dia mencintaiku atau tidak, membuat hubungan kami masih bertahan di taraf pertemanan. Aku masih terlalu takut menyatakan perasaanku padanya, aku juga takut nantinya tersakiti jika cintaku selama ini pada akhirnya ditolak.
***
Liburan semester ganjil pun tiba. Bagi kebanyakan siswa, liburan adalah hal yang menyenangkan, tapi tidak untukku. Liburan semester berarti aku tidak akan pergi sekolah selama 2 minggu, tidak ke sekolah itu berarti tidak akan bertemu dengan Qeira. Sebenarnya bisa saja aku datang berkunjung ke rumahnya, tapi tentu tidak mungkin kulakukan setiap hari. Setelah tujuh hari libur, aku sudah tidak sabar ingin bertemu Qeira, aku pun memberanikan diri datang ke rumahnya. Sudah setengah jam aku berdiri di depan rumahnya, dan memencet bel berkali-kali, tapi tidak ada jawaban sama sekali. “Sepertinya Qeira dan keluarganya sedang berlibur di suatu tempat” pikirku. Aku pun berjalan lesu kembali ke rumah. Dua minggu kemudian liburan berlalu, hari Senin yang kutunggu-tunggu datang. Pagi-pagi aku sudah siap berangkat sekolah dan tidak sabar bertemu lagi dengan Qeira. Tapi kenyataannya sampai jam pelajaran berakhir, Qiera tidak ada. Bangkunya kosong. Dua hari, tiga hari, sampai lima hari kemudian sosoknya tidak terlihat. Aku dihinggapi kecemasan, “Apa mungkin saat ini Qeira sedang sakit? Sepertinya hari ini aku harus berkunjung ke rumahnya lagi” pikirku.
Usai istirahat, jam pelajaran berlanjut, wali kelasku masuk. “Selamat siang anak-anak. Mari kita lanjutkan pelajaran selanjutnya. Minggu lalu kita sudah membahas jenis-jenis tumbuhan, sekarang kita lanjutkan bab berikutnya, buka halaman 245. Oh iya, ada yang perlu bapak sampaikan sebelumnya. Teman kalian Qiera Shakila tidak akan lagi belajar disini. Ia pindah sekolah. Dan karena kepergiannya mendadak, ia memohon maaf tidak bisa menyampaikan salam perpisahan kepada kalian. Baiklah mari kita lihat gambar di halaman 245…” Aku yang sedari tadi sibuk dengan pikiranku sendiri, tersentak mendengar apa yang tadi pak guru katakan. Penjelasan pak guru tidak terdengar lagi, semuanya terasa gelap.. aku masih tidak percaya dengan kepindahan Qeira..
Ia memang pernah menceritakan padaku bahwa pekerjaan ayahnya mengharuskan ia dan keluarganya berpindah-pindah tempat tinggal. Tapi tidak kusangka baru tinggal satu tahun disini ia harus pindah lagi. Hatiku hancur, dan untuk kesekian kalinya ia membuatku terkejut. Apakah dimatanya hubungan kami selama ini tidak ada artinya? sampai-sampai sebelum pergi, ia tidak menyampaikan sepatah kata pun padaku dan pergi begitu saja. Hatiku sakit.. Yah inilah akhir cinta pertamaku..