Saturday, February 28, 2015

Bahasa Rusia Part 2

0 comments

        Dulu saya sudah pernah memposting mengenai alfabet rusia, yaitu сyrillic. Cyrillic dan transliterasinya bisa dilihat disini. Kali ini waktunya belajar mengenal kosakata berhubungan dengan kata ganti diri, dan beberapa kata kerja. Setelah itu belajar membuat kalimat sederhana --à SPO (Sebenarnya dalam bahasa Rusia susunannya tidak selalu harus SPO, bisa juga SOP)

Kosakata:

Kata Ganti Diri:

Я
Saya
Ты
Kamu
Он/Она/Оно
Dia (laki2/perempuan/benda)
Мы
Kami
Вы
Anda
Они
Mereka


Kata Kerja:


Читать
Писать
Смотреть
Я
Читаю
Пишу
Смотрю
Ты
Читаешь
Пишешь
Смотришь
Он/Она
Читает
Пишет
Смотрит
Мы
Читаем
Пишем
Смотрим
Вы
Читаете
Пишете
Смотрите
Они
Читают
Пишут
Смотрят

Dalam membuat kalimat berobjek langsung, maka kita harus menggunakan Винимательный Падеж atau kasus akusatif. Bahasa Rusia sendiri mengenal kata feminin, maskulin, dan netral. Nantinya kata yang digunakan akan mempengaruhi konjugasi pada kata kerja, kata ganti milik, dsb. Lebih jelasnya dapat dilihat tabel di bawah ini:

Мужской Род/ Maskulin
-
-/а
-ы/-ов
-й/-я
-и/-ев
-ь/-я
-и/-ей

Женский Род/Feminin
-а
-ия
-ии
/-
/
-ию
-ии
/-ей

Средний Род/Netral
-о
-ие
-ия
-ие
-ия


Nah… sekarang waktunya membuat kalimat:

Saya membaca buku
Я читаю книгу  

Perubahan infinitive читать   dikonjugasikan menjadi читаю melihat subjeknya adalah Я. Seperti yang terlihat pada tabel konjugasi kata kerja Я --> читаю.
Книга menjadi книгу. Книга merupakan kata feminin. Kata ini berakhiran –а. Seperti yang dapat dilihat pada tabel Женский Род, akhiran -a menjadi --à -у


Contoh lainnya:

Kami menonton televisi
Мы смотрим телевизор

Kata смотреть ---> смотрим karena subjeknya adalah мы (kami).
Телевизор tidak mengalami perubahan karena merupakan benda mati. 

*Untuk kasus akusatif, objek benda mati yang berakhiran konsonan tidak diberikan akhiran apapun, atau tetap sama. Terkecuali jika merupakan benda hidup maka diberikan akhiran -а (seperti di tabel Мужской Род) 
contohnya студент (siswa) ---> студента. 

Dia (pr) menulis surat
Она пишет письмо


Semoga penjelasannya mudah dipahami...


Monday, February 23, 2015

Don’t Judge a Book by Its Cover

0 comments

          Hampir semua buku yang diterbitkan di masa sekarang ini memiliki cover yang menarik. Untuk saya pribadi, selain judul, cover juga menjadi nilai tambah suatu buku. Biasanya, ketika di toko buku dan melihat-lihat buku yang terpajang di rak, secara sekilas saya lebih sering tertarik pada cover terlebih dahulu. Baru setelah itu membaca judul dan deskripsi singkat yang ada di belakang buku.
          Sebenarnya kejadiannya sudah berlangsung cukup lama, Waktu itu di rumah tidak ada lagi buku yang bisa saya baca (buku fiksi, non-fiksi, maupun self-improvement). Kemudian kakak saya menyarankan saya untuk membaca buku yang langsung diperlihatkan kepada saya saat itu juga. Bukunya berukuran lebih kecil dari ukuran buku pada umumnya, dan terlihat sudah cukup tua. Hal ini terlihat dari covernya yang sudah memudar, dan juga sederhana. Buku itu berjudul “Memperkuat Daya Kemauan” yang ditulis oleh Sumantri Mertodipuro.


Ternyata buku ini adalah buku  koleksi ayah saya yang dibelinya ketika masih muda. Oleh karenanya sudah jelas buku itu sudah lama diterbitkan bahkan berusia jauh melampaui usia saya. hehe.
          
          Saya sangat tertarik dengan judulnya, namun tidak terlalu tertarik untuk membacanya. Untungnya buku itu berukuran kecil dan tipis. Saya pikir apa salahnya mencoba membaca beberapa lembar terlebih dahulu. Pada akhirnya, yang tadinya berniat membaca hanya beberapa lembar, saya justru selesai membaca buku itu sampai halaman akhir. Buku ini sangat bagus dan menginspirasi. Gambaran pembahasan dari setiap bab, dapat terlihat dari daftar isi yang tercantum dibawah ini:


Daftar isi

Meskipun dari luar terlihat sederhana, tetapi isinya memberikan pembahasan lengkap disertai dengan kutipan-kutipan, kisah nyata orang-orang dengan daya kemauan yang kuat, dan ikhtisar.

Yap, Don’t Judge a Book by Its Cover… =)








Wednesday, October 29, 2014

Flash Fiction

0 comments

Lagi-lagi memakan waktu cukup lama bagi saya untuk dapat menulis blog ini.

Seperti judul yang saya cantumkan, kali ini saya ingin membahas mengenai 'Flash Fiction'. Saya pribadi belum lama ini mengenal flash fiction, Tanpa sengaja saya mengenal salah satu istilah short fiction ini ketika melihat kontes menulis global. Biasanya, saya menulis cerita fiksi dengan jumlah 2500-5000 kata. Agak terkejut begitu melihat persyaratan kompetisi itu tidak lebih dari 100 kata. Saya langsung terpikir, bagaimana caranya bisa menulis satu cerita tidak lebih dari 100 kata. Terutama dalam bahasa inggris yang mengandung to be sehingga dihitung sebagai satu kata terpisah. Untungnya saya berhasil menyelesaikannya, nyaris saja melebihi 100 kata. 

Flash fiction seringkali disamakan dengan Short story. Padahal keduanya berbeda. Nah kali ini saya ingin share informasi yang saya peroleh mengenai perbedaan keduanya (dari http://www.craftingfiction.com/2011/02/flash-fiction-vs-short-stories-whats-the-difference.html) :



  • Short story (SS) pada umumnya berkisar antara 500-10.000 kata, sedangkan Flash fiction (FF) berkisar 100-1000 kata. Sebenarnya dari kisaran katanya saja sudah sedikit membingungkan untuk melihat perbedaan jelas antara SS dan FF ini. Jadi bagaimana membedakan SS 500 kata dengan FF yang juga 500 kata?


Untuk itulah, perlu dilihat dari strukturnya.



  • SS memiliki struktur dasar introduksi, aksi yang meningkat, klimaks, aksi yang menurun, dan resolusi sedangkan FF mengandung konflik, resolusi, dan plot yang lebih sederhana. Dengan kata lain keduanya berbeda dalam hal kedalaman karakter tokoh, dan perkembangan jalan ceritanya. 



Sebagai penutup, turut saya sertakan Flash fiction yang saya coba buat. Semoga sudah memenuhi kriteria sebagai FF. hehe


KESIANGAN

“Ya ampuuun! sudah jam ½ 7! Gawat, kesiangan!!!”
Segera aku bangkit, memasukkan buku pelajaran hari ini ke dalam tas, bergegas mandi, dan mengenakan seragam. Ayah dan ibu yang sedang menonton televisi melihatku keheranan.
“Kamu mau kemana?”
“Ya sekolah dong bu, ini sudah jam 7. Kenapa aku gak dibangunin. Kesiangan jadinya. Hari Senin lagi..” Keluhku panjang lebar sambil mengenakan sepatu.
“Sudah ya, aku berangkat.”
Begitu membuka pintu rumah, kulihat langit gelap. Aku baru menyadari situasi sebenarnya. Ayah dan ibu tertawa terbahak-bahak begitu melihatku kembali. Ternyata sekarang jam 7 malam hari Minggu…



Saturday, May 3, 2014

Keluar Zona Nyaman

0 comments

Ternyata benar, semakin bertambah dewasa semakin banyak penyesalan atas hal yang tidak dilakukan karena tidak berani atau malas untuk meninggalkan zona nyaman.
Saya teringat salah satu ilustrasi yang terdapat dalam buku Stephen R Covey yang berjudul 7 Habits of Highly Effective Teens yang menunjukkan gambar seorang pria ketakutan untuk terjun berenang ke kolam di luar zona nyamannya. Itu adalah satu contoh yang sangat menarik, menurut saya ilustrasi itu menggambarkan seseorang yang sebenarnya memiliki keinginan untuk berenang bukan karena terpaksa. Sayangnya ia ragu-ragu dan takut sesuatu akan terjadi padanya ketika masuk ke dalam kolam, misalnya karena alasan takut tenggelam, dan keram dalam air. Padahal begitu berhasil terjun dan berenang di dalam kolam, ketakuan yang ia rasakan justru akan lenyap dan membawa kebahagiaan dan kesenangan atas pencapaiaannya berenang.
Seperti itu pulalah kehidupan, impian besar ada dalam setiap diri orang. Mereka tahu bahwa ketika impiannya tercapai, itu adalah hal yang sangat membahagiakan. Sayangnya seringkali ketakutanlah yang mengambil kendali (seperti yang saya alami). Takut gagal, sebelum mencoba sudah menyerah. Selama beberapa tahun mungkin belum terasa penyesalan, tetapi cepat atau lambat pasti penyesalan itu datang. Ada quotes yang mengatakan bahwa hanya ada satu cara menghilangkan ketakutan, yaitu dengan cara menghadapi ketakutan itu.
Berbagai informasi dan motivasi didapat baik dari film dan buku pengembangan diri, namun terkadang masih sulit untuk meninggalkan zona nyaman. Saya sendiri sebenarnya takut untuk meninggalkan zona nyaman dan menjadikan impian saya menjadi kenyataan. Bahkan seringkali saya malah lupa dengan resolusi yang sudah dibuat karena sudah asik menghabiskan waktu berleha-leha. Hasilnya setiap akhir tahun, hanya ada beberapa centangan di list yang menandakan sudah tercapai.
Terkadang beberapa kejadian dan momen penting membangkitkan kembali semangat saya untuk berusaha. Seperti ketika usia saya bertambah. Saya menyadari salah satu impian saya masih begitu buram. Tak pernah sekalipun usaha saya lakukan untuk mengejarnya. Setiap waktu, saya melihat orang lain yang berhasil, tetapi saya tetap hanya bisa memimpikannya. 
Langkah pertama harus segera dilakukan…


Sebagai penutup, beberapa quotes favorit saya: