Wednesday, March 29, 2017

Tekun Belajar

2 comments

Namanya Tekun Belajar. Ia adalah sahabat sekaligus teman sekelasku semasa SMA. Lulus sekolah, kami melanjutkan pendidikan di universitas berbeda. Setelah memperoleh gelar dari universitas, aku mendapat pekerjaan tidak jauh dari tempat tinggalku sedangkan Tekun memutuskan kembali ke kampung halamannya dan menjadi guru sekolah di sana. Meskipun terpisah jarak, disibukkan dengan pekerjaan, serta membangun kehidupan keluarga masing-masing, namun kami masih tetap bersahabat sampai rambut kami telah memutih. Kami suka berbicara melalui telepon, memberikan kabar, membahas kehidupan masing-masing, anak-anak yang beranjak dewasa, memiliki cucu pertama, dan topik-topik menarik lainnya. Teknologi memudahkan siapapun untuk berkomunikasi, akan tetapi mengirim pesan melalui surat paling disukai Tekun. Ia semakin sering mengirimiku surat di masa pensiunnya. Menurutnya pesan akan lebih tersampaikan jika ditulis sendiri pengirimnya.

Selain itu, satu sampai dua kali dalam setahun kami menyediakan waktu luang mengunjungi rumah satu sama lain. Aku mengenal baik istri Tekun, Ita, yang juga merupakan teman sekelas kami semasa SMA. Awalnya ia tak tertarik pada Tekun, tapi lama kelamaan berkat kegigihan dan ketekunan seperti tercermin dari namanya, Ita menerima cinta Tekun. Mereka dikaruniai seorang anak lelaki yang kini hidup mapan.

Hari ini aku sedang dalam perjalanan mengunjungi sahabatku Tekun di kampung halamannya. Masih dapat kuingat jelas hari ketika kami bertemu. Di hari pertama masuk sekolah, aku datang kesiangan beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. Sesampainya di sana sudah tidak banyak tempat duduk tersisa. Hanya ada 2 bangku kosong di baris paling belakang, dan 3 bangku kosong di baris pertama. Dikarenakan mata minus, tak mungkin bagiku duduk di baris paling belakang. Akhirnya kupilih secara acak bangku yang kutempati di baris depan. Teman sebangku itulah yang kemudian menjadi sahabatku. Sesudah meletakkan tas dan duduk di bangkuku, ia langsung mengulurkan tangan padaku “Tekun Belajar.” Ucapnya. Aku tidak mengerti hal yang dibicarakannya. “Ha? Sekarang kita memang harus belajar.” Ia tertawa. “Bukan, maksudku namaku Tekun. Tekun Belajar.” “Namamu Tekun... Belajar? Oh... Aku Ergi.” Walaupun sebenarnya aku agak terkejut mendengar namanya yang unik, aku berusaha bersikap biasa saja dan membalas uluran tangannya mengajak bersalaman.
***

Ketika melewati koridor aku sempat mendengar beberapa anak perempuan membicarakan Tekun. Sebenarnya banyak anak lainnya yang membicarakan dirinya di belakangnya. Mereka menjadikan nama unik Tekun sebagai bahan tertawaan. “Tekun, kamu jangan lupa selalu tekun belajar. Jangan tekun bermain.” Ucap seorang teman yang menurutku jelas-jelas mengejek Tekun. Tekun cuma tersenyum mendengarnya. Aku heran dengan orang tuanya yang memberikan nama seperti itu kepadanya.

“Tekun, maaf kalau kamu berpikir aku terlalu ikut campur. Apakah tidak pernah terlintas dipikiranmu untuk mengganti nama?” Tanyaku hati-hati membuka percakapan. “Namaku? Kamu pikir namaku buruk?” “Bu-bukan begitu maksudku. “Namamu unik, tapi yah... agak aneh dijadikan sebuah nama.” Kemudian Tekun pun menceritakan kisah di balik namanya. “Kedua orang tuaku tidak bisa berbahasa Indonesia, mereka hanya berbicara menggunakan bahasa daerah. Suatu hari paman, adik ayahku yang bekerja di kota, pulang ke kampung. Ia bercerita mengenai kehidupannya di kota dengan memasukkan beberapa kata dalam bahasa indonesia. Ayahku tertarik pada kata ‘tekun belajar’ yang diucapkan paman. Menurutnya dua kata itu terdengar indah, terlebih setelah mengetahui artinya. Saat ibuku mengandung, ayah berencana menggunakan kata ‘Tekun Belajar’ untuk menamai anak mereka jika yang lahir anak lelaki.” Selama beberapa saat Tekun terdiam sebelum melanjutkan ceritanya.

“Dulu di kampungku tidak ada sekolah yang berdiri.  Demi masa depanku, kedua orang tuaku meminta paman membawaku untuk bersekolah di kota. Ternyata teman-teman baru di kota justru menganggap namaku aneh. Mereka tertawa mendengar namaku...” Aku memotong kalimatnya. “Makanya sekarang ganti saja namamu. Bicarakan hal ini dengan kedua orang tuamu. Walaupun harus mengurus berkas-berkas, nantinya kamu bisa memiliki nama baru Kun.”

“Kamu belum mendengar kelanjutan ceritaku Gi. Awalnya aku sedih ditertawakan teman-temanku. Tetapi beberapa minggu kemudian tidak ada yang membicarakannya lagi. Mereka sudah terbiasa dengan namaku. Sekarang mungkin teman-teman di sekolah ini masih menertawakanku. Seminggu, sebulan, atau beberapa bulan lagi mereka pasti  bosan. Tak mungkin kedua orang tuaku berniat memberikan nama tidak baik. Terselip doa dan harapan mereka dalam nama yang diberikan kepadaku. Aku tak akan pernah mengganti namaku. Aku suka namaku Tekun Belajar.”

Setelah mendengar ucapan Tekun, aku mulai memahami perasaan dan cara pandangnya. “Maaf aku sudah berkata yang tidak-tidak. Kalau dipikir-pikir namamu juga membawa keuntungan.” Tekun mengernyitkan dahi tak mengerti. “Namamu yang unik membuat guru, dan teman-teman mudah mengingatmu. Kamu jadi populer.” Tekun tertawa mendengarnya. “Semoga aku tidak populer karena namaku saja.” Balasnya.


Sampai lulus sekolah Tekun memang tidak dikenal karena hanya keunikan namanya, tetapi juga kepintarannya. Ia selalu mendapat peringkat pertama dari kelas 1 sampai kelas 3. Teman-teman sekelas, junior, maupun senior di sekolah kami hampir semuanya mengenal si Tekun Belajar. Menurut Tekun, setiap orang yang memanggil namanya seperti pemberi semangat dan pengingat agar dirinya terus tekun dalam mencapai tujuannya.

Mengenang masa lalu kami, tak terasa aku sudah sampai di tempat Tekun. “Tekun Belajar, apa kabar? Aku ingin memberitahumu, cucuku bulan depan menikah. Sangat menyenangkan kalau kamu juga bisa berkumpul bersama kami...” Mataku mulai berair memandang tempat peristirahatan terakhir Tekun. Aku merasa sedih tak bisa lagi mendengar suara, dan menerima surat-surat berisi tulisan tangan Tekun setelah kematiannya dua tahun lalu.

***

Friday, March 10, 2017

Langit Yang Kusuka

0 comments

Bagiku langit sangat menakjubkan. Menjadi teman pagi, siang dan malam. 
Langit membuatku bisa menatap ke atas. Menyadari keindahan pesonanya. 

Kaya warna..  

Lihatlah warnanya di pagi hari. Biru muda ditemani cahaya dan hangatnya mentari. 
Lihatlah warnanya di siang hari.  Biru yang terlihat lebih kental dengan corak putih beraneka bentuk.
Lihatlah warnanya di sore hari, jika beruntung..  kamu bisa melihat perpaduan warna yang cantik.  Biru, ungu, merah, dan orange...
Lihatlah warnanya di malam hari. Hitam pekat. Tapi warna yang tak kalah indahnya.. Terlebih saat titik titik bercahaya menghiasinya. 

Warna langit memang berubah seiring berjalannya waktu, tapi dia tetaplah langit yang sama. Itulah yang kusuka. 




Friday, February 10, 2017

Kenangan Indah Yang Menyakitkan

1 comments

Katanya... setiap teringat kenangan indah, selalu bisa membuat yang mengalaminya merasa bahagia. Tapi kenyataannya ada yang terasa menyakitkan sama seperti kenangan buruk. Meski dalam level atau tingkat yang berbeda. Seandainya kenangan itu tak pernah tercipta atau... paling tidak, dapat terlupakan ketika terbangun layaknya bunga tidur. Mungkin akan lebih baik.

Yah.. kata ‘seandainya’ yang muncul saja sudah menandakan bahwa kenangan indah yang selalu melintas itu, tak lagi memunculkan perasaan yang sama seperti dulu. Inilah kenangan indah menyakitkan yang dimaksud. Kamu pernah merasakannya?

Pena yang diapit jari telunjuk dan jempolnya pun berhenti bergerak. “Sepertinya tak mungkin...” Gumamnya. Matanya mulai terasa berair. Ia menghela nafas, menarik garis bolak-balik di bagian kalimat ‘kamu pernah merasakannya?’ berulang kali, hingga warna hitam pekat menutupi semua bagian kalimat itu. Setelahnya, ia pun kembali menggerakkan penanya membentuk huruf demi huruf di atas permukaan kertas.

Kenangan yang begitu berarti untuk satu pihak, sementara yang lain acuh begitu saja seakan tak pernah ada yang terjadi. Inilah kenangan indah menyakitkan yang dimaksud. Kenangan yang membuat dada terasa sesak ketika datang atau melewati tempat yang sama. Inilah kenangan indah menyakitkan yang dimaksud.

Gerakan tangannya kembali terhenti. Ia merenung sejenak. Setelah beberapa saat, ia melanjutkan kata-kata yang ditulisnya.

Kuharap kamu tak pernah merasakannya...
***

16:07 WIB, 10-2-2017. Thya

Jaringan internet lagi bermasalah, so saya memutuskan untuk menuliskan cerita fiksi super pendek ini sore tadi. I hope you like it :)

Sunday, January 1, 2017

Halo 2017

0 comments

Sama seperti tahun-tahun-tahun-tahun-tahun sebelumnya, di malam tahun baru, saya tiduran dengan nyaman di kamar tercinta sambil berkali-kali gonta ganti saluran tv. Pas sore-sorenya, mama saya tiba-tiba ngasih tau kalo adik saya ga pulang ke rumah karena dia sama temennya mau liat kembang api di Monas. Saya pun ketawa, "Ap-hah? cuma liat kembang api doang?"
HAHAHAHAHAHAHAHA
HA
HA
HA....
Dalam hati... Pengen juga dongs ada yang ngajakin liat kembang api :"

Untuk menghilangkan kebosanan dan kesedihan, sekitar jam 9 malam, saya pun memutuskan untuk olahraga *kurang gaya apa coba. Ceritanya lari di treadmill, tapi baru beberapa menit lari, udah ngosngosan. Saya pun memilih berjalan cepat, eh tapi baru 2 menit kaki saya udah letih, saya pun memilih berjalan lambat... Sampai akhirnya 5 menit kemudian saya sudahi lari-lari itu dan lebih memilih duduk manis sambil gonta ganti saluran tv lagi...


Balik ke masalah resolusi di tahun 2017. Emmm sebelum menceritakannya. Saya ingin mengulas sedikit kehidupan saya di tahun 2016 kemarin. Ada hal-hal yang menyedihkan,  seperti di tahun ini saya kehilangan banyak kucing peliharaan... Selebihnya,  lebih banyak hal menyenangkan terjadi karena beberapa resolusi saya tercapai di tahun ini :)
Beberapa di antaranya,  saya berkenalan dan berteman dengan orang-orang menyenangkan,  mendapat banyak ilmu dari penulis-penulis keren, cukup produktif mengerjakan hobi menggambar di waktu luang, berkumpul dengan teman-teman lama, jumlah postingan saya di blog ini mengalami peningkatan dari tahun, dan bulan-bulan sebelumnya. Yeaaay *bersorak gembira

Untuk tahun 2017... masih ada resolusi dari tahun-tahun kemarin yang mengisi daftar tahun 2017 ini. Ga mau saya ceritain semua sih, cuma beberapa aja :)

Lebih Fit
Fit yang saya maksud disini, selain sehat juga punya berat badan ideal. Saya rasa untuk mencapai berat ideal itu, sesuai dengan tinggi saya, saya paling tidak harus mengurangi 5 kg *sotoy. Sebenernya saya ga terlalu suka makan banyak *seriusan, tapi sayangnya saya sangat amat suka nyemil, seperti permen, snack, kue, coklat, es krim, dll. Kalo lagi di rumah, asal ada bunyi tektektek tukang apa aja saya lari-lari keluar. Alhasil, kebanyakan nyemal nyemil bikin berat badan saya naik...
Bagian wajah sayalah yang paling sering dapat komentar teman-teman dan keluarga. "Pipinya tembem banget" "Pipi lo bulat" "Pipinya kaya bakpao deh" gimana ga sedih coba disebutin begitu... Yang bikin makin sedih, pas ngaca ngomong sama diri sendiri "Bener kata mereka, kenapa lemak-lemak ini nangkring di pipiku..." So, untuk merealisasikan resolusi ini, selain mengurangi cemal cemil, saya juga mau rajin olahraga. Dimulai olahraga ringan, kaya jalan-jalan kecil sampe nantinya olahraga berat, kaya angkat beban. ha-ha...

Belajar bikin sketsa bangunan
Di awal bulan Desember kemarin, sewaktu ketemuan sama dua temen lama, yang sama-sama merupakan arsitek. Mereka ngajakin saya untuk dateng sebentar ke kota tua ngikutin kegiatan komunitas sketching gitu. Berhubung penasaran pengen liat secara langsung orang-orang bikin sketsa, saya pun mengiyakan. Ternyata... KEREN! Mereka bikin sketsa tanpa pakai pensil, langsung pake sejenis drawing pen. Mereka bikin sketsa bangunan, dan suasana kota tua yang keren bangets deh pokoknya. Bikin saya jadi iri... 
Tiba-tiba di tengah lamunan, teman saya ngajakin saya untuk nyoba juga. Pakai alasan bukan anak arsitek dan ga bisa gambar bangunan, saya menolak. Tapi pas tahu salah satu anggota komunitas itu sendiri bukan anak arsitek, saya kagum. Saya pun berbicara dalam hati "Kalau dia aja bisa, kenapa saya enggak." *ceritanya sotoy lagi. Saya pun mengeluarkan sketchbook. Ga mau keliatan sombong, saya ngeluarin pensil aja *padahal emang ga yakin pake drawing pen langsung :". Saya milih objek Museum Fatahillah.
Ga tanggung-tanggung.. ketika beberapa orang di sana milih bikin sketsa bagian atapnya, setengah bagian bangunan, saya yang awam ini milih buat gambar museum itu secara keseluruhan! Bat bet bat bet gores sana sini. Hasilnya... gambar saya kaya gambar anak TK. Sedih.... 
Satu hal yang saya pelajari saat itu, untuk bisa bikin sketsa yang bagus, semua butuh proses :) Oleh karena itu, tahun ini saya berharap bisa banyak belajar bikin sketsa bangunan! Semoga walau sketsa saya ga sebagus anggota komunitas itu, nantinya sketsa saya ga kaya gambar anak TK lagi.

  
Baca 24 Buku
24 buku adalah jumlah minimum yang saya harap dapat saya baca dalam satu tahun ini. Tahun sebelumnya, saya menargetkan cukup banyak, tetapi kenyataannya setengahnya aja ga kecapai. Tahun ini saya berharap bisa membaca paling tidak 2 buku setiap bulannya, entah itu fiksi atau sejenis buku self-improvement.

Itulah segelintir resolusi saya di tahun 2017, masih banyak resolusi lain yang ga bisa saya sebutkan satu persatu di sini berhubung list-nya cukup panjang~

Btw saya harap di luar urusan pekerjaan, saya bisa lebih aktif menulis. Salah satunya dengan lebih meningkatkan jumlah postingan di blog ini. Tadinya saya pikir untuk apa saya masih ngurus inih blog, siapa juga yang baca. Tapi begitu melihat statistik visitor, ternyata masih ada yang berkunjung (mungkin tanpa sengaja jadi nyasar ke blog thya yang ga jelas ini :( ). Di luar itu, saya menganggap blog ini sebagai tempat kedua menyalurkan pikiran saya, setelah coretan tulisan tangan yang sifatnya lebih pribadi di buku jurnal. 

Selamat Tahun Baru! :))







Tuesday, December 27, 2016

Tak Mutlak

0 comments

Sebentar terkadang terasa lama
Lama terkadang terasa sesaat
Pikiran tak selalu sama
Memaknai tak mengikat

Momen serupa
Dianggap berlainan
Hal yang utama
Diacuhkan


Ternyata memang tak mutlak...

Saturday, December 17, 2016

Sikap dan Perasaan Nyaman

0 comments

‘Sikap’ menurut saya adalah topik yang menarik untuk dibicarakan. Ada pepatah yang saya sukai berkaitan dengan hal yang satu ini. Saya coba telusurin sumbernya, hanya tertulis kalau ini pepatah Jepang.

"The first face, you show to the world. The second face, you show to your close friends, and your family. The third face, you never show anyone. It is the truest reflection of who you are." 

Setiap orang punya 3 wajah atau yang saya anggap sebagai sikap yang berbeda ketika berhadapan dengan lingkungan yang berbeda. Sikap saat berhadapan dengan orang asing atau tak terlalu dikenal, sikap saat berhadapan dengan keluarga atau teman dan orang yang spesial,  serta sikap saat seorang diri yang mencerminkan karakter diri sesungguhnya. 

Ketika berhadapan dengan orang yang tak terlalu akrab, umumnya seseorang lebih banyak diam,  kalem,  bahkan sering disangka jutek (pengecualian untuk orang yang super supel dan ekstrovert). Tapi begitu berhadapan sama teman yang lama dikenal dan akrab, sikapnya pun ikut berubah. Jadi lebih rame,  bahkan karena udah ga ada perasaan canggung lagi... jadinya justru kelihatan kekanakan dan terkadang mirip orang gila. Lalu ketika seorang diri,  seseorang yang biasanya suka bercanda dan tertawa di depan banyak orang, saat seorang diri mungkin aslinya lebih serius, banyak mikir tujuan hidupnya... cita-citanya..., dll... 

Di sini saya lebih mau ngeshare pemikiran saya berkaitan sama sikap yang ditunjukkin di depan lingkungan pertemanan saya. Di depan teman-teman, saya cendrung agak cerewet, suka banget bercanda, dan terkadang suka heboh-heboh sendiri. Sebenernya sikap saya ini juga bisa muncul saat saya baru berkenalan dengan orang baru. Loh kok bisa? Jadi begini... (nanya sendiri, jawab sendiri) Seringkali dalam beberapa menit perkenalan sama orang baru, saya bisa ngerasain apakah orang itu enak di ajak ngobrol dan membuat saya merasa nyaman atau enggak. Yah... bisa dibilang bukan lama enggaknya saling mengenal, tapi lebih ke perasaan nyaman dengan orang tersebut.

Sedikit flashback... Di masa kuliah, saya menemukan 2 orang sahabat yang berasa click banget sama saya. Seorang wanita cantik yg kini telah menjadi seorang pramugari bernama Syifa, yang lebih sering saya panggil Sipa, dan seorang lelaki yang pintar sekali mempelajari berbagai bahasa,  yang kini sedang menyelesaikan studi s2-nya di Rusia, bernama Akbar. Banyak sekali memori yang tersimpan bersama mereka.

Ketika kami bersatu dan ngumpul... kami udah kaya orang gila. Bisa dibilang istilahnya kami satu frekuensi. Sama-sama cerewet, sama-sama suka bercanda, sama-sama gila... Kami bisa mentertawakan hal-hal yang mungkin menurut orang lain "Apaan sih?  Ga jelas." Kami suka duduk selonjoran di lantai Giant atau Hypermart, nongkrong lama di sana, keluar-keluar cuma beli 3 botol air mineral... Kami sangat suka berkaraoke walau suara kami, terutama suara saya cuma cocok jadi penyanyi kamar mandi.  Kami suka pergi ke Time Zone... Kami suka bersepeda muter-muter kampus... Ketika menyetujui ide yg tercetus dari salah satu di antara kami,  kami saling bertatapan sambil melontarkan satu kata "hayuuuk" Kami menggunakan bahasa yang dimodifikasi  "yasudahse, kamu dimandose, yuhuuuu" dll. 

Kini, langkah dan bidang pekerjaan yang kami geluti sudah berbeda. Intensitas pertemuan pun bisa terhitung jari. Sipa kini di Makassar, dan Akbar di Rusia. Tapi hal yang saya syukuri, hubungan pertemanan kami masih terjalin dengan baik :)

Balik lagi ke topik mengenai sikap tadi. Sayangnya, ternyata ga semua orang yang membuat saya merasa nyaman saat di dekat mereka,  merasakan perasaan yang sama juga. Cerminan mereka ga bisa menerima sikap saya itu, mungkin dengan lontaran kalimat pendek yang tanpa mereka sadari sedikit menyakiti perasaan saya.  Jadi ya... Saat itu terjadi,  saya ga merasa marah tapi lebih ke kecewa sih... Saat saya menerima mereka apa adanya, tidak demikian dengan mereka.

Saya sendiri,  kalau ada seseorang yang sikapnya di depan orang lain kalem, dan  lebih banyak diam,  tapi ketika berinteraksi sama saya sikapnya berubah jadi rame,  banyak tertawa. Respon saya... Sangat amat senang sekali~  Seriusan. Kalau mereka bisa leluasa dan ga sungkan lagi nunjukkin sikap mereka itu di depan saya,  saya menganggap mereka nyaman berteman dan berbicara dengan saya. Sama seperti yang saya rasakan terhadap orang yang membuat saya merasa nyaman. Ujung-ujungnya balik lagi ke masalah kenyamanan sih...
  
Well,  sebagai penutup postingan kali ini. Ini dia quote yang bisa menggambarkan kenyamanan yang saya maksud. 


“There is a child inside each one of us in our life, who comes out in front of the person we are most comfortable with.” Unknown

Friday, November 4, 2016

Menyapa

0 comments

Hari menyapa

Mengenalkan pagi
Waktu berganti
Siang pun menanti
Berkunjung lagi
Malam Pemimpi

Kata menyapa
Senyum terumpan
Makna menyapa
Sudah tak terkesan...


Entah ini sudah memenuhi kaidah atau tidak, hanya ingin berekspresi...