Saturday, April 8, 2017

“Tentang Kamu”nya Tere Liye

Dari buku-buku Tere Liye yang pernah saya baca, tema dan jalan ceritanya selalu bikin saya takjub, “Kok bisa sih si bapak Darwis ini kepikiran ide cerita seperti itu?” Tere Liye bisa menulis cerita tentang percintaan, hubungan keluarga, dongeng, politik, fantasi, dan untuk bukunya yang baru saya selesaikan, “Tentang kamu” berkaitan dengan harta warisan.




Halaman pertama novel “Tentang Kamu” dibuka dengan pengenalan tokohnya yang bernama Zaman Zulkarnaen, seorang pengacara asal Indonesia yang bekerja di firma hukum Thompson & Co, yang berlokasi di kota London. Thompson & Co adalah firma hukum besar, tapi cukup tertutup dan menjauhi yang namanya publikasi. Memasuki bab kedua, Zaman mendapat tugas untuk menuntaskan dan menemukan ahli waris dari seorang wanita tua bernama Sri Ningsih, yang meninggal dengan tenang di panti jompo, di kota Paris.

Awalnya saya pikir Zaman jadi tokoh utama cerita. Ternyata perkiraan saya salah, Sri Ningsih inilah yang jadi tokoh utamanya. Peran Zaman dalam novel ini menelusuri kehidupan Sri Ningsih dari masa kecil hingga akhir hayatnya di panti jompo ‘La Cerisaie Maison de Retraite’. Dalam upaya untuk menemukan ahli waris Sri Ningsih, Zaman memulai pencariannya dengan mengunjungi tempat di mana Sri Ningsih dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya, Pulau Bungin. Dari seorang tetua bernama Ode, Zaman mengetahui kehidupan masa kecil Sri Ningsih. 

Sri Ningsih lahir dari pasangan bernama Rahayu dan Nugroho. Malang, ibunya meninggal sewaktu melahirkannya. Mengisi kekosongan Rahayu, Nugroho meminang Nusi Maratta. Dari pernikahan ini Sri Ningsih nantinya punya adik laki-laki tiri yang diberi nama Tilamuta. Banyak kejadian yang terjadi di Pulau Bungin. Singkat cerita saat Sri Ningsih berumur lima belas tahun, ia bersama Tilamuta meninggalkan pulau Bungin menuju madrasah di pedalaman Surakarta, Jawa Tengah. Di sana Sri Ningsih mendapatkan 2 orang sahabat bernama Nuraini dan Sulastri. Setelah Surakarta pun masih banyak tempat yang Zaman telesuri, dan juga orang-orang berkaitan dengan Sri Ningsih semasa hidup. Ada Chaterine, Aimee, Lucy, Franciszek, keluarga Khan, dan Hakan.

Bagaimana bisa seorang wanita yang tak memiliki keluarga, meninggalkan harta warisan yang bernilai sangat besar? Kenapa Sri Ningsih pergi berpindah-pindah tempat sampai tinggal di luar negeri? Jawabannya ada di penghujung halaman-halaman terakhir. Hehe.

Kesan saya setelah menyelesaikan “Tentang Kamu”, keren!!! Tapi ada bagian dari beberapa cerita dan penokohan karakter Sri Ningsih, menurut saya terlalu ‘fiksi’ dan ‘berlebihan’. Iya saya tahu ini buku fiksi tapi entah kenapa itu bikin ceritanya jadi terkesan maksa (dari sudut pandang saya). Selain itu, menurut saya kehidupan pribadi Zaman ga terlalu penting untuk dibahas (Ups Sorry). Sisanya jempolan deh!

Hal lain yang bikin saya suka banget novel-novel Tere Liye, adalah banyak kata-kata mutiara yang bertebaran. Ini dia beberapa di antaranya dari “Tentang Kamu”:

“Saat kita telah berhasil melupakan sesuatu, bukan berarti itu benar-benar telah lupa begitu saja, boleh jadi masih ada yang mengingatnya.” (p. 340)

“Maka, semoga besok beban di hati terangkat sedikit. Tidak usah banyak,  sedikit saja tidak apa. Besok, besoknya lagi, biarkan waktu menyiram semua kesedihan hingga hilang tak berbekas.” (p. 384)

“Cinta memang tidak perlu ditemukan, cinta-lah yang akan menemukan kita. (p.408)




1 comments:

Yusnaeni Reply Comment

ulasan mengenai buku itu kurang banyak Tya :) tapi keren nih, review buku lagi donk :)

Post a Comment