Tuesday, January 16, 2018

Hello 2018

0 comments

Hello 2018..

Belum terlambat untuk membuka lembaran baru dan mengisinya dengan mimpi-mimpi yang lebih besar bukan?

Tanpa rencana, semuanya terasa buram dan tak terarah. Menuliskannya di secarik kertas bisa menjadi pengingat pada tujuan, pada ‘misi pribadi’ yang harus di capai dalam suatu rentang waktu, jangka pendek dan jangka panjang. Masih banyak mimpi-mimpi yang tertunda, tapi ada juga yang sudah terwujud nyata. Beberapa pencapaian yang cukup memuaskan, berkat kerja keras, berani meningalkan zona nyaman, dan tentunya doa.

Hal yang menarik di tahun 2017 adalah mengingat perasaan yang campur aduk, antara rasa takut dan keragu-raguan yang kemudian berubah jadi perasaan bahagia dan lega, sewaktu melakukan hal-hal yang berbeda dari keseharian. Dari mulai berbicara di depan umum, bertraveling, hingga berkenalan dengan orang-orang baru yang berbeda kebudayaan.

2018... waktunya membuat hidup jadi lebih berwarna. 

Friday, July 7, 2017

Jangan berekspetasi

0 comments

Mendapat perhatian dan kepedulian, itu bahagia.
Bahagia itu datang sering tanpa diduga.
Tapi, saat berekspetasi terus berulang hal yang sama.
Itu berbeda.
Kecewa yang ada.

Berharap tinggi dan berekspetasi pada mimpi, 
Itu pasti.
Berharap tinggi dan berekspetasi pada orang lain,
Itu makan hati.



Thya 7/7/2017 07:04 pm

Wednesday, May 17, 2017

Sewaktu bosan...

0 comments



Saya ngerasa miris ngeliat keadaan dan kegiatan anak-anak sekarang ini, yang sangat amat berbeda jauh dengan masa kecil saya dulu. Saya tahu sekarang ini smartphone udah jadi kebutuhan sehari-hari, tapi saya pikir bukan untuk anak-anak. Saya kasihan sama mereka yang ga bisa ngerasain pengalaman seumurannya, karena udah kenal gadget duluan. 

Untuk saya sendiri, banyak pengalaman masa kecil yang begitu saya ingat kembali, bikin saya ingat kebodohan-kebodohan dulu.

Sewaktu bosan...
Saya suka bermain ‘guru-guruan’ pura-pura ngajar di papan tulis. Biar ramai, saya jejerin boneka yang saya anggap sebagai murid.

Sewaktu bosan...
Pas rumah lagi di renovasi, dan temboknya belum dicat. Saya lihat tembok itu mirip papan tulis hitam. Saya gambar wajah perempuan dalam ukuran besar pakai kapur. Gambarnya cukup memuaskan saya, sayang gambar itu ga bisa dihapus... sampai berhari-hari.

Sewaktu bosan...
Di waktu nemenin orang tua belanja, saya bermain petak umpet bareng adik saya. Niatnya bikin kaget adik saya, dalam hitungan ketiga saya tarik baju-baju yang digantung sambil bilang “Baaaa”, justru saya yang kaget karena adik, dan orang tua saya udah ga ada di tempat. Itulah pengalaman saya hilang di mal.. Mba spg yang cantik mendekati dan ngomong lembut. Saya udah ga ingat apa yang dia bilang. Dia bawa saya ke meja informasi, dan nama saya pun diinformasikan “Anak bernama thya yang ditemukan di area sekitar...’ Tak lama keluarga saya datang...

Sewaktu bosan...
Duduk di bangku kelas 4 atau 5 SD, saya belajar 'berbisnis'. Saya banyak ngisi waktu luang menggambar. Terus gambar-gambar yang saya buat  itu saya jual ke teman-teman di sekolah. Waktu pulang ke rumah, saya buka lapak dagang jual penghapus-penghapus hadiah chiki, yang padahal punya kakak dan adik saya. Banyak anak-anak tetangga yang datang. Tapi karena terlalu ramai saya jadi takut sendiri dan akhirnya ningalin lapak masuk ke dalam rumah.
  
Sewaktu bosan...
Saya tau barbie saya udah cantik, tapi saya pengen dia makin cantik. Makanya saya ambil make up ibu saya untuk dandanin 'dia'.
                                                                                     
Itulah beberapa kegiatan di waktu luang yang pernah mewarnai masa kecil saya. Kalau di jaman saya udah ada smartphone, mungkin ga pernah ada pengalaman-pengalaman warna-warni itu. Semoga aja di luar sana, masih ada anak-anak yang bisa menikmati masa kecilnya sama seperti saya dulu, bukan tergantung sama si smartphone.



Tuesday, May 9, 2017

Waktu Yang Menyembuhkan Luka

1 comments

Tubuhnya seketika terasa membeku, langkah kakinya  terhenti, tatapannya terpaku memandang pria dari arah berlawanan dengannya. Pria yang dikenalnya itu pun terlihat kikuk dan terdiam. Terasa ada jeda selama beberapa saat.

Ia adalah pria yang paling membuatnya bahagia, paling dinanti, dan paling terbaik. Penggalan memori, tanpa diundang seperti terpampang di depan matanya. Muncul secara acak dari awal perkenalan hingga bertahun-tahun kemudian mengisi lembaran-lembaran hidupnya. Dari penggalan memori yang menyenangkan hingga melukai hatinya. Pria itu memang pernah menjadi yang paling terbaik untuknya. Tapi tidak untuk sekarang.

Pikirannya kembali ke tempat ia berada. Seulas senyum menghiasi wajah wanita itu sebelum melanjutkan langkah kakinya. Senyum perpisahan yang dulu tak pernah tersampaikan. Senyum lega yang menandakan bahwa ia sudah bisa memaafkan yang telah berlalu. Katanya, waktu bisa menyembuhkan luka.
***


Mencoba meluangkan waktu untuk menulis fiksi pendek lagi. Kangen menuangkan imajinasi :)

Monday, May 1, 2017

Kota

0 comments

Pepohonan rindang yang berdiri di kanan kiri jalan kini tergantikan tiang-tiang kokoh, yang entah akan dibangun apa. 
Persawahan hijau kini tergantikan mal besar dan perumahan. 
Warung-warung yang ada di sepanjang jalan kini tergantikan beberapa mini market. 
Jalan yang sepi kini dipenuhi kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. 
Udara yang sejuk kini terasa panas.
Waktu kini semakin tersita banyak. 
Dulu kupikir akan lebih baik jika menjadi kota.
Ada perasaan senang, tetapi sebagian besar diriku merasa jemu dengan pemandangan dan suasana seperti di ibu kota. 

Monday, April 24, 2017

Unlucky Loser

0 comments

Pertama kali lihat ‘Unlucky Loser’ saya tertarik dengan covernya yang mencolok. Tapi pas saya balik covernya, ternyata ga ada sinopsis. Hanya ada tulisan singkat ‘Mereka datang, berkencan, dan kalah!’ di kedua sisi cover novel yang saling berlawanan arah. Meski ga tahu novel ini bercerita mengenai apa, akhirnya saya tetap membelinya. Kalau bagus berarti saya beruntung. Kalau ceritanya membosankan, ya udah... hehe.


Novel duet dari penulis bernama Shinta Indrasari & Erry Santy ini setelah saya baca bergenre metropop. Untuk yang belum tahu, metropop adalah genre novel yang mengangkat tema cerita seputar kehidupan masyarakat perkotaan dengan gaya bahasa yang ringan (dan agak sedikit blak-blakan menurut saya).

Berhubung saya ga tahu mana yang bagian depan dan belakang dari buku ini, saya memilih membaca cerita yang ditulis Erry Santy lebih dulu. Tokoh utama ceritanya adalah seorang wanita bernama Sashiana Nardi Sanggulmaromas, yang biasa dipanggil Sashi. Wanita berusia 29 tahun ini berprofesi sebagai art director di perusahaan agensi bertaraf internasional, Britaliads. Sashi tinggal di Mayestik sementara keluarganya di Lebak Bulus. 

Sashi memiliki teman baik bernama Annika yang sudah dikenalnya sejak bangku SMA. Berbeda dengan Annika yang memiliki kekasih dan akan segera dilamar, Sashi masih hidup sendiri. Disinilah inti ceritanya, menceritakan mengenai kehidupan asmara Sashi dengan beberapa pria yang dekat dengannya.

Dimulai dari Andre, pria berusia 42 tahun yang sudah memiliki anak berusia 22 tahun tapi masih berstatus single; Prio, seorang PNS yang agak ‘aneh’ dan perhitungan; Radian, pemuda tampan yang perfeksionis, keras kepala, dan agak galak; Nino, si brondong yang sensitif, agak cengeng dan manja; dan Jodi, pengusaha kaya raya yang super romantis. Dari semua pria yang mampir ke dalam kehidupan Sashi, saya paling tertarik sama cerita Sashi dan Nino. Nino paling terlihat tulus dibanding tokoh pria lainnya, yah... walau kesensitifannya itulah yang bikin Sashi ragu. Biarpun belum punya pekerjaan, Nino udah ngasih hadiah Sashi cincin seharga 4 jutaan (Cincin yang ternyata dia beli dari pinjaman uang nyokapnya, dengan alasan untuk ganti ban mobil :D) . Nino emang cengeng dan manja, tapi di akhir hubungannya sama Sashi, ia gentle dengan menepati janji menghilang dari kehidupan Sashi.

Nah, untuk cerita yang ditulis Shinta Indrasari, tokoh utamanya adalah seorang pria bernama Indra Putro Rahardjo berumur 30 tahun. Indra bekerja di perusahaan desain grafis bernama DPI. Dia punya pacar cantik, baik, dan sangat amat perhatian bernama Ocha. Ocha jauh lebih muda dari Indra, udah lulus kuliah tapi belum dapat pekerjaan. Makanya si Ocha ini sering banget sms atau nelponin Indra ga pandang waktu. Di sinilah permasalahannya muncul. Awalnya Indra suka perhatian dari pacarnya ini, tapi lama kelamaan dia merasa terganggu. Di tengah-tengah hubungan mereka ini, ada Mel yang dikenalnya sewaktu clubbing. Mereka sering 'tidur bareng'  meski sama-sama punya kekasih. Selain itu, ada tokoh Maureen, wanita yang berusia 4 tahun lebih tua dari Indra, yang menyembunyikan kenyataan yang nantinya bikin Indra merasa tertipu.

O iya, berhubung novel ini udah diterbitin cukup lama, jadi harap dimaklum kalau tokoh-tokohnya masih mengandalkan sms dan telepon. Sebenernya metropop bukanlah genre favorit saya, tapi secara keseluruhan cerita ‘Unlucky Loser’ cukup menarik. Menggambarkan kehidupan kedua tokoh utama dengan segala intrik kisah cintanya. Tergantung selera sih.. Tapi saya ga suka dengan karakter kedua tokoh utama 'Unlucky Loser'. Udah itu aja :) 


Tuesday, April 18, 2017

Tersimpan di Dalam Hati

0 comments

Kenangan itu...
Momen manis yang tak kan terulang lagi,
Siapa yang tak mau merasakan dan mengalaminya berkali-kali,
Atau...
Menginginkan momen itu tetap kekal,
Tetapi mengulangnya adalah mustahil,
Meski mencoba untuk tetap sama,
Meski kembali ke tempat yang sama,
Dengan orang-orang yang sama,
Karena sebenarnya tak ada yang sama di balik kata ‘sama’,
Waktu berjalan dan semua bertransformasi,
Dalam sepersekian detik momen-momen indah itu...
Hanya berlalu secepat kilat di pelupuk mata,
Hanya tersimpan di dalam hati