Monday, September 12, 2016

Musik...Instrumental

0 comments

Headset terpasang di kedua belah telinga, musik mengalun...

Saya sering jalanin rutinitas sambil dengerin musik. Entah itu waktu duduk di depan komputer, waktu ngegambar, waktu beres-beres, atau waktu ngadepin kemacetan jakarta. Mungkin karena sering liat saya pake headset, bukan cuma satu dua kali temen-temen saya nanya “Thya lo suka denger lagu jenis apa?” “Rekomendasiin lagu dong.” Setiap ditanya begitu, rasanya ada jeda mikir jawaban apa yang harus saya bilang. Bukannya ga mau ngasih tau, saya bingung jawabnya. Akhirnya kata yang sering terucap “Tergantung. Asal lagunya enak.” “Lo ga bakal suka list lagu gue.”

Iya asal tergantung lagunya enak. Saya bisa suka musik pop, RnB, sampai rock. Dari lagu Indonesia, barat, Rusia, Jepang, Korea, Spanyol dll (yang bahasanya aja ga saya ngerti). Dari mulai Raisa, L'arc en ciel, K.Will, SNSD, Alsu, Juju, Utada Hikaru, Little Mix, Mohito, Mariah Carey, Tania Mara, Katy B, Natasha Bedingfield dll (Random). Tapi... sebenernya hampir 70% daftar lagu di music player saya itu adalah musik instrumental alias ga ada suara penyanyinya. Yap, itulah alasan saya bingung jawab pertanyaan temen yang minta rekomendasi lagu. Kebanyakan orang (di mata saya) suka sama lagu barat atau indonesia ditambah yang ada vocalisnya. Kalau saya jawab “Hmm kalo gue sukanya musik instrumen ost shigatsu wa kimi no uso. O iya lagunya Alsu yang judulnya А у моей любви juga oke. Eh ada juga musik yang enak dari pianis blablabla...” Saya yakin akan ada jeda panjang di tengah pembicaraan saya dan temen saya itu.

Saya banyak ngabisin waktu di depan laptop, ketak ketik ketak ketik. Karena itulah saya ngerasa nyaman aja ngetik sambil dengerin musik instrumental. Lagian pernah denger kan kalau lagi sensitif atau sedih, orang bakal lebih perhatian sama lirik lagunya? Mood lagi ga bagus, tiba-tiba dengerin lagu yang liriknya pas banget ‘jleb’. Udah deh tutup laptop, tarik selimut, sesenggukan.lol.

Sebagai penutup postingan, ini salah satu musik favorit dari Masaru Yokoyama.







Wednesday, August 3, 2016

Flashback & Tulisan Tangan

1 comments

Semenjak kenal perangkat teknologi untuk ngerjain tugas dan nyalurin imajinasi, yaitu komputer. Saya sangat amat jarang nyentuh pulpen lagi. Alasannya… karena MALAS. Toh udah ada komputer atau notebook yang dalam sekejap bisa nyalurin gagasan tertulis.  Kenapa harus repot-repot tulis tangan? Kemudian…

*** 

Di waktu bersih-bersih lemari buku & laci yang kalau dipikir-pikir udah ga kehitung banyaknya berapa kali saya bersihin. Udah gitu biasanya habis rapi, saya janji  sama diri sendiri “Okay thya, ini harus tetap rapi ga boleh berantakan lagi.” Eh tapi ujung-ujungnya, setiap ada buku atau berkas yang ceritanya dibuang sayang dan belum disortir, saya paksa masukkin itu semua ke dalam lemari yang sebenernya udah penuh sesak. Alhasil, kalau lagi sadar dan rajin, siklus bersih-bersih itu terus berulang berulang berulang dan terus berulang...

Nah, kebiasaan saya sewaktu bersih-bersih suka buka-buka isi buku catatan lama. Saya suka cengengesan sendiri waktu ngeliatnya lagi. Contohnya, di balik halaman terakhir buku catatan sekolah saya tertulis nama seorang yang memenuhi satu halaman penuh. Agak jijay sih nginget kelakuan saya jaman sekolah.

Ada lagi, masih di buku catatan jaman sekolah. Saya suka banget gambar coretan-coretan, kadang kembang-kembang abstrak, kelokan melingkar-lingkar, dan yang paling sering saya gambar boneka yang suka digambar anak tk sambil dinyanyiin. Penggalannya kurang lebih seperti ini. “Lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran besaaar… Ayah, ibu naik perahu.”  Entahlah apa yang ada di otak saya saat itu sampai suka sekali menggambar boneka itu.

Soal tulisan tangan, gaya tulisan saya waktu sekolah sempet berubah-ubah.  Saya pernah coba nulis gaya miring ke kiri, huruf gepeng bawah (pakai bantuan penggaris), huruf keriting-keriting, dan huruf bulat-bulat. *Maaf istilah saya yang aneh ini.

Beberapa teman yang pernah minjam catatan saya bilang tulisan saya rapi. Lama kelamaan guru saya juga mulai minta saya nulis bahan materi di papan tulis untuk ditulis teman-teman saya. Materinya banyak… sampai saya nulis di dua papan tulis berbeda dan jari telunjuk saya berasa kapalan. Ditambah saya harus nyalin juga di buku catatan saya sendiri. Jadinya saya nulis dua kali lipat. Tapi waktu itu saya pikir, ah sudahlah yang penting mereka suka tulisan saya.  Saya kan jadi bangga. lol.

Setahun, dua tahun, tiga tahun… sampai duduk di bangku SMA, kepikiran kok saya ga lepas dari posisi sekretaris yang salah satu kerjaannya nulis di papan tulis *mulai jenuh. Hal lain yang agak bikin nyesek, tepat di bangku kelas 3 SMA, berdasarkan voting harusnya saya jadi wakil ketua kelas. Eh yg seharusnya jadi sekretaris (anak cowo) minta tukeran posisi. Alasannya dia gara-gara tulisannya kurang bagus. Temen-temen yang vote saya pun akhirnya malah berbalik mendukung saya turun jabatan jadi sekretaris. hiks.

Jadi begitulah, sedikit flashback pengalaman masa sekolah banyak nulis di papan tulis. Dulu sempet kesel dan berpikir buruk berasa dimanfaatin. Padahal alasan mereka mungkin memang benar-benar menyukai tulisan saya (ke-GRan) 

Sekarang malah jadi kangen kerjaan sekretaris dulu. Nulis di papan tulis, ngisi buku absensi kelas... :’)

 ***

Kemudian... berhubung lama ga nulis semenjak tergantung sama komputer, sekalinya nulis ternyata tulisan saya semakin hancur. Saya bahkan sering syok lihat tulisan tangan saya, saya aja susah bacanya apalagi orang lain. Semenjak itulah saya rajin lagi nulis di buku diary, atau nulis quote favorit supaya tangan saya ga kaku untuk nulis. Btw, saya suka banget lihat tulisan tangan orang lain (asalkan masih terbaca sih.hehe) Soalnya menurut saya tulisan tangan itu salah satu hal yang menjadi ciri khas seseorang. Unik!

Hmmmmm pembicaraan saya jadi ngalor ngidul begini. Kok berasa ga nyambung ya... yasudahlah anggap sajalah sebagai curahan hati :'D Tapi intinya, saya menyarankan untuk siapapun sesekali meluangkan waktu menulis. Terserah nulis apapun, bisa nulis diary, quote favorit, atau bahkan nulis nama orang yang disukai sampai satu halaman penuh seperti yang saya lakukan jaman sekolah. haha.




Friday, July 8, 2016

Quotes

0 comments

Saya sangat sering menjadikan langit dan pepohonan sebagai objek gambar. Alasannya sederhana karena saya suka melihatnya :)
Langit yang di satu waktu berwarna biru berselimutkan awan tebal, terkadang disertai burung yang terbang kesana kemari; langit yang di waktu lain berwarna kelabu diiringi tetesan hujan yang jatuh; serta langit gelap pekat yang di sekitarnya bertaburan bintang. Demikian juga dengan  pepohonan. Daunnya yang kehijauan tertiup sepoi-sepoi angin menghasilkan suara gemerisik membuat kenyamanan tersendiri.

Berkaitan dengan apa yang saya bicarakan, inilah quotes yang saya sukai berhubungan dengan langit dan pepohonan. Semoga menginspirasi :)


(Dok pribadi)

(https://www.pinterest.com/pin/190206784235162452/)

(https://quotefancy.com/quote/30550)
  

  (http://www.getfrank.co.nz/editorial/inspirational-quotes)

                                                                                                                                    

Saturday, January 30, 2016

Menulis dan Kenangan

0 comments


Kebanyakan orang berpikir kalau menulis identik dengan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang berprofesi sebagai penulis.  Padahal tidak demikian. Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja, dan memang disarankan bagi setiap orang untuk menulis. 

Kenapa?

Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari menulis, seperti mengasah kreatifitas, mengurangi stres, dan mencegah kepikunan. Namun di post kali ini saya tidak bermaksud untuk menjabarkan satu persatu manfaat menulis, melainkan mengaitkannya dengan kenangan. Kenangan yang terjadi di masa lampau, kenangan yang menyenangkan, kenangan yang membuat bahagia.
Menulis tidaklah harus dalam bentuk mengarang sebuah cerita (fiksi). Kita bisa menuliskan di dalam buku harian suatu kejadian yang menarik, bahagia, ide, mimpi, dan juga perasaan. Mungkin ada yang mengatakan tak perlu menuliskannya karena berpendapat suatu hal yang berkesan tanpa dituliskan tentu saja akan terus diingat. Saya sependapat bahwa kita tak akan mudah melupakan hal yang berkesan, namun kita tak akan mengingatnya secara detail, dan ada bagian dari kenangan yang bersamaan berjalannya waktu akan terlupakan.

Saya rasa tak mungkin seseorang hanya memiliki beberapa momen yang berharga dan berkesan dalam hidupnya. Banyak sekali momen-momen penting yang akan terjadi selama kita hidup. Cara untuk mengingatnya adalah dengan menulis. Saat kita membaca tulisan kita beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian, kita seperti menikmati sebuah cerita. Kita dapat mengingat perasaan, dan kejadiannya secara detail, bulan bahkan hari saat momen itu berlangsung. Kita bisa menambahkan foto yang berkaitan dengan momen, menempelkannya di sela-sela tulisan.



“Fill your paper with the breathings of your heart.”

William Wordsworth


Saturday, January 16, 2016

Perjalanan Berkesenian Astari Rasyid

0 comments



Perempuan bernama lengkap Sri Astari Rasyid merupakan seorang seniman kontemporer yang dikenal luas para pencinta seni melalui karyanya bertemakan sosial, perempuan, dan budaya jawa. Astari menyatukan unsur tradisional, budaya, dan keindahan dengan semangat kekinian melalui karyanya. Selain menjadi seorang seniman, ia juga menjadi pengajar di perguruan tinggi serta aktif dalam kegiatan sosial yang berhubungan dengan kesenian.
            Pada masa kanak-kanak, Astari pernah tinggal di India dan Burma dikarenakan pekerjaan ayahnya yang merupakan seorang atase militer. Meskipun merasakan perbedaan kultural dari negara yang berbeda, namun tidak membuatnya lupa akan kebudayaan dan bahasa daerahnya ketika kembali ke tanah air. Hal ini tidak terlepas dari peran kedua orang tuanya yang selalu mengajarkan nilai-nilai moral serta budaya jawa dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak memanjakan Astari dan saudara-saudaranya dengan materi berlebihan dan pada saat melakukan suatu hal yang baik pun, mereka tidak pernah memuji secara langsung. Mereka mengajarkan bahwa seorang gadis harus menyenangkan, tersenyum dan memiliki perilaku yang baik, serta terlihat menarik, bahkan jika ia merasa sengsara. Kedua orang tuanya ingin agar anak-anaknya hidup mandiri dan memahami arti kerja keras.
            Sejak kecil Astari menyukai dunia gambar dan juga memiliki rasa ingin tahu yang besar. Salah satu contohnya, ketika masih duduk dibangku sekolah ia selalu penasaran dengan makna dari perayaan  hari Kartini serta sosok R.A Kartini yang sangat dihormati. Begitu lebih dewasa barulah ia mengerti kehebatan dari sosok di balik hari kartini itu. Selain ketertarikan akan kesenian, sebenarnya Astari juga gemar memembaca buku yang terus berlanjut hingga saat ini. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku cerita ketika anak-anak seusianya lebih suka bermain. Buku favoritnya adalah buku mengenai kesenian, psikologi, filsafat, biografi, ekonomi dan sosial. Ia tertarik dengan tokoh perempuan seperti R.A Kartini, Margareth Teacher dan Benazir Bhutto. Membaca buku memberikan wawasan luas dan buku-buku tersebut banyak mempengaruhi dirinya dalam berkarya.
            Beranjak dewasa, Astari tidak langsung berkecimpung dalam dunia seni. Sebelumnya, Ia pernah menjalani profesi sebagai seorang sekretaris. Namun, ia hanya mampu bertahan bekerja menjadi sekretaris selama dua bulan karena menyadari profesi itu tidak sesuai dengan minatnya. Kemudian ia beralih profesi menjadi reporter mode sekaligus editor majalah. Ia memilih profesi tersebut karena merasa dekat dengan dunia jurnalistik yang berhubungan dengan mode, busana, dan keindahan. Selain itu, di masa kecil ia sering melihat ibunya yang kreatif menjahit pakaian untuk dirinya dan saudara-saudaranya. Profesi ini dijalani cukup lama sampai akhirnya memutuskan untuk menikah.
            Di sela-sela waktu luang sebagai ibu rumah tangga, Astari sering bersosialisasi dan mengasah kreatifitas dengan terlibat dalam bidang pendidikan, mempromosikan kesenian, serta mengorganisir acara seni sehingga memiliki jaringan pertemanan yang luas. Ditengah-tengah kesibukannya, ia masih merasakan ada perasaan kosong di dalam dirinya. Hal ini kemudian menyebabkannya sering menghabiskan waktu dengan berkutat kembali pada hobi menggambar. Kegiatan yang selalu membuat dirinya bahagia dan tenang.
            Menandakan keseriusan akan hobinya itu, ia mulai mengikuti kelas melukis untuk mempelajari seni lebih mendalam. Bahkan dalam beberapa kesempatan mempelajari seni di universitas ketika menemani suaminya dalam rangka perjalanan bisnis di luar negeri. Ia pernah mempelajari seni di beberapa universitas di Amerika Serikat maupun Inggris, yakni fashion design di Lucy Clayton School of Fashion, London, Inggris, Advanced Painting di Universitas Minnesota, Amerika Serikat dan kembali ke London, Inggris mempelajari Painting Course di Royal College Art.
            Setelah menjalani dan memahami kesenian lebih mendalam, Astari bercita-cita untuk menjadi seorang pelukis profesional dan menyelenggarakan pameran solo. Ia ingin agar karyanya dapat diakui serta dinikmati masyarakat, terutama pecinta seni seperti dirinya. Pada tahun 1999, impiannya untuk menyelenggarakan pameran solo menjadi kenyataan. Sampai saat ini ia telah banyak terlibat dalam berbagai pameran. Tidak hanya di Indonesia, karyanya sudah sampai dipamerkan pada pameran mancanegara, antara lain pameran solo Vanessa Art Link, Beijing, Cina pada tahun 2008, pameran grup Expression Terroriste, Galerie Loft, Paris pada tahun 2005, Beyond the East, Macro, Museo d’Arte Contemporanea, Roma, Italia pada tahun 2011, Art Stage Singapore, Indonesian Pavilion pada tahun 2012, dan Arsenale, Venice Biennale, Italia pada tahun 2013. Pada pameran yang diselenggarakan di Italia ini, Indonesia pertama kalinya ikut serta  dengan diwakili lima seniman yang salah satunya adalah Astari Rasyid.
            Pada saat menghasilkan karya seni, Astari sering menghabiskan waktu seorang diri di studio pribadinya. Baginya, perlatan seni, karya yang terpajang, dan buku-buku adalah dunianya. Meskipun bukan seorang aktivis feminis, Ia seringkali mengeksplorasi tema perempuan dalam karya-karyanya. Perempuan, unsur tradisional, perpaduan warna yang gelap menjadi ciri khas lukisannya. Karyanya sering menunjukkan rangkaian potret diri sebagai objek lukisan. Dalam karya yang berjudul “Calling for Petruk”, Astari melukiskan dirinya dalam karakter wayang bernama Petruk. Ia menjadi Petruk versi perempuan mengenakan pakaian kebaya yang kancingnya dilepas. Dibalik kebaya, ia mengenakan pakaian seperti Superman, namun dengan tulisan ‘P’ untuk Petruk. Karya ini menunjukkan perpaduan antara sisi maskulin tradisional jawa dan barat. Dalam lukisan yang berjudul “Petruk Can Do Everything Superman Can Do”, Astari masih digambarkan sebagai tokoh Petruk versi perempuan. Ia tengah membopong Spiderman, si manusia super. Padahal biasanya Spidermanlah yang menyelamatkan dan membopong perempuan.
            Dalam lukisan lain yang berjudul “Formula #1 Perempuan Kuat” Astari melukiskan dirinya sebagai seorang perempuan yang terlihat gagah berdiri tegak dengan mengenakan pakaian tradisional pria jawa, yaitu beskap dan blankon. Kemudian, dalam karya yang berjudul “Solitaire” Astari digambarkan bersayap mengenakan busana berwarna merah berdiri tegak tatapan lurus ke depan dengan kedua tangan di depan memegang buket bunga. Latar lukisan sangat detail dengan latar menghadap ke luar jendela. Menampakkan langit berawan kekuningan disertai pesawat yang tengah terbang.
            Berbeda dari lukisannya yang umumnya menampilkan seorang perempuan. Pada karya yang berjudul “T-Time With Frida” (dibaca Tea Time). Astari menampilkan potret dirinya bersama Frida Kahlo, pelukis ternama asal Meksiko yang terkenal dengan lukisan potret diri. Kahlo sendiri sudah meninggal pada tahun 1954. Mereka berdua berasal dari negara dan era yang berbeda. Akan tetapi mereka memiliki kesamaan dalam hal ketertarikan akan budaya dan pengalaman pribadi yang dikaitkan dengan karya mereka. Di dalam lukisan, Astari menggambarkan dirinya dan Kahlo tengah duduk bersama sambil berpegangan tangan. Lukisan yang sangat unik karena Astari yang berasal dari Jawa menggunakan pakaian perempuan meksiko, dan sebaliknya Kahlo yang berasal dari Meksiko mengenakan pakaian tradisional jawa. Astari melalui lukisannya ingin mengungkapkan bahwa tradisi dalam kehidupan tradisional dan modern itu sama.
            Selain lukisan Astari juga membuat karya seni berupa patung dan seni instalasi. Pada pameran Art for Cancer yang diselenggarakan di  Museum Seni Rupa dan Keramik, ia  menampilkan karya yang berjudul "Pendopo: Dancing the Wild Seas" berupa tujuh wayang yang terlihat anggun dan cantik mengenakan pakaian tradisional perempuan jawa, kebaya. Kebaya yang menurutnya merupakan simbol integritas perempuan. Dalam karya lain yang berjudul “Prettified Cage”, kebaya kembali menjadi objek seninya. Kebaya yang merupakan pakaian tradisional dapat dibuat Astari menjadi dikenal secara global. Karya yang terbuat dari Stainless steel ini memperlihatkan sisi elegan dan modern perempuan dengan memadukan warna putih keperakan senada untuk atasan dan bawahan. Karya unik lain yang masih mengangkat masalah perempuan, berjudul “Honey I’m Home” turut serta dalam pameran patung kontemporer Indonesia bertemakan Ekspansi. Karya ini berupa perempuan dalam balutan kebaya putih duduk dan terperangkap dalam ruangan berjeruji berbentuk seperti tas yang diberi nama home.
            Meskipun lebih banyak mengangkat isu perempuan, tidak semua karyanya berpusat pada tema tersebut. Seperti pada karya yang berjudul “Eling” yang turut serta pada pameran seni logam di Jakarta pada tahun 2013. Ia mengangkat tema sosial. Begitu melihatnya, para pengunjung akan merasa penasaran dengan makna dibalik judul dan bentuk karyanya yang menyerupai untaian tasbih besar disertai dengan bulir tengkorak dengan berhiaskan beberapa kuntum bunga di atas kepala tengkorak itu. Nama eling sendiri berasal dari bahasa jawa, yang berarti ingat. Tasbih sendiri biasa digunakan ketika berdoa. Makna dari bulir kepala tengkorak sebagai simbol pengingat bahwa suatu saat nanti setiap manusia akan meninggalkan kenikmatan dunia. Sebagai tanda pengingat juga kepada para koruptor untuk menggunakan hati nurani sebelum bertindak. Karya lain Astari yang dinamakan “Recovery Prayer Beads” masih menggunakan konsep dan bentuk yang sama berupa untaian tasbih, namun dengan bahan, ukuran dan warna yang berbeda. Pada dasarnya ia selalu memberikan pesan mendalam melalui media seni.
            Di luar keindahan karya seninya, Astari selalu terlihat cantik dan modis dalam berbagai kesempatan. Selain pameran lukisan yang tidak terlewatkan untuk dihadiri, ia juga terlihat menghadiri pagelaran busana. Seperti kebaya, ia juga memiliki ketertarian pada batik. Baginya, batik merupakan salah satu kekayaan Indonesia yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Ia sangat mendukung batik Indonesia yang menurutnya indah dan merupakan identitas bangsa.
            Perempuan cerdas, berbakat, modern, mandiri tidak ingin tergantung dengan siapapun, serta berjiwa sosial itulah Astari Rasyid. Ia ingin dikenal atas siapa dirinya dengan mengekspresikan pandangannya melalui seni. Seni yang terinspirasi dari pengalaman hidup, gaya hidup, dan isu sosial. Kecintaannya kepada seni begitu besar. Seperti  yang pernah dikatakannya dalam sebuah wawancara, seni itu jujur dan berkesenian tidak akan mati atau tenggelam dalam situasi sesulit apapun.
             


REFERENSI:

Bianpoen, Carla. 2001. ASTARI RASJID: Highlighting the Goddess within Women. The Indonesia Tatler.


Saya menulisnya di tahun 2014, tapi baru di posting sekarang :)