Wednesday, February 5, 2014

Satu Cinta Empat Tawa

0 comments

Ketika merapikan folder di laptop dan mendelete file-file yang sudah tidak penting, saya menemukan cerpen-cerpen yang saya buat dulu. Salah satu cerpen yang saya buat berjudul "Satu Cinta Empat Tawa" yang akan saya posting kali ini. Awal mula membuat cerpen ini adalah untuk perlombaan. Saya sendiri lupa, cerpen ini sempat saya kirimkan atau tidak. hehe.. Kalau tidak salah, saya membuatnya sekitar tahun 2012 dalam waktu 2 jam. Sebenarnya ceritanya tidak spesial dan mungkin sedikit memaksa. Selain itu, masih banyak kata-kata yang salah eja, maupun tidak tepat penempatannya, tapi saya tidak ingin mengeditnya karena ingin menunjukkan hasil tulisan saya dua tahun yang lalu.
Langsung saja...

Satu Cinta Empat Tawa
Cinta.. Jika itu adalah satu kata untuk mengungkapkan rasa sayang untuk seseorang atau beberapa orang yang membuat kita bahagia ketika berada dekat dengan mereka. Aku pernah merasakannya. Aku mencintai seseorang, aku mencintai sahabatku. Akan tetapi, jika cinta itu diutarakan untuk keluargaku. Sayang sekali, aku tidak pernah merasakannya sampai saat ini…
“Dey, kamu semester ini dapat IP[1] berapa?” Ucap ibuku. “3,4 bu”  Aku tahu apa yang akan diucapkan ibu selanjutnya. “Kok, tidak berbeda jauh dari semester kemarin.” “Segitu IP Deyza naik 0,3 bu.” “Yah tapi kan, kalo naiknya lebih besar lagi, itu lebih baik. Anak teman ibu dapet IP sampai 3,8 tuh.” “Kalau begitu, bagaimana kalau anak teman ibu itu, ibu angkat saja jadi anak. menggantikan posisi Deyza?” Tanpa melihat reaksi ibu, aku berlalu menuju kamar. Sudah malas diam diruang keluarga mendengarkan ocehan ibuku lebih lama. Ibuku bukanlah tipe orang yang mudah marah, bahkan jarang sekali aku melihatnya marah. Ia ibu yang sangat baik, sayang kekurangannya hanya satu. Ibuku selalu menginginkan prestasi anaknya yang tinggi, dan sempurna. Yang membuatku semakin kesal adalah Ia selalu membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Seandainya aku memiliki ibu yang selalu mendukung dan bangga atas usaha kerasku untuk belajar..
Sore harinya, suara adikku, Sera membangunkanku. “Dey, bangun, bangun, banguuun!” Ucapnya sambil mengguncang-guncang tubuhku. “Apaan sih, tidak usah teriak-teriak. Telingaku sakit!” “Teriak-teriak saja kamu susah bangun, apalagi dibangunkan dengan lembut. Eh aku pinjam uang seratus ribu dong Dey.” “Kenapa minta sama aku? memangnya kamu pikir aku ini Bank, minta sama ayah.” “Jangan pelit sama adik sendiri Dey.. Aku tidak berani minta duit langsung ke ayah. Kalau ke ibu, tidak mungkin…yang ada aku malah dimarahi.” “Aku tak peduli. Lagipula pasti uang itu kamu gunakan untuk pergi main. O iya, sejak kapan kamu jadi adikku? bukannya kamu selalu memanggil  namaku saja. hoho” Aku kembali menarik selimut.  “Huh! Dasar, nenek pelit!” “Heh! bicara sembarangan. Kamu semakin hari semakin menyebalkan. Aku benci punya adik sepertimu!” Sera terdiam sejenak, kemudian berkata dengan nada suara yang sangat dingin. “Memangnya kamu saja, sekarang aku jadi malas punya kakak sepertimu.” Ia pun keluar membanting pintu. Tatapannya tadi sedikit aneh, apa mungkin ucapanku tadi keterlaluan? Ah sudahlah salahnya sendiri menggangguku. Perbedaan umurku dengannya hanya satu tahun, tapi dia selalu bertindak seakan-akan kami seumuran. Setiap hari kami selalu bertengkar dikarenakan hal-hal yang sepele. Aku tidak mempermasalahkan dia memanggilku tanpa panggilan kakak, yang paling aku benci dia selalu menghina dan menjahiliku. Seandainya aku memiliki adik yang menghormati dan menyayangiku…
Malam harinya, Kami makan bersama di meja makan. Ayah, Ibu, Aku, dan Sera. Kami berkumpul lengkap hanya ketika makan malam dan akhir pekan. Setiap hari ayah berangkat kerja pagi-pagi sekali dan baru tiba di rumah ketika sudah malam. Ayahku bukan tipe orang yang banyak berbicara, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ibu. Entah bagaimana akhirnya mereka bisa menjadi pasangan suami istri. Jarang sekali aku berbicara dengan ayah, tanpa terlebih dahulu ayah yang membuka pembicaraan. Aku merasa segan padanya. Dari kecil aku dan Sera lebih dekat dengan ibu. Sera yang sehari-hari sangat cerewet, jika sudah berhadapan dengan ayah akan diam seribu bahasa. Seandainya aku punya ayah yang mau meluangkan waktunya untukku dan sering-sering mengajakku berbicara…
***
“Kok kamu tertawa sih Nes..” “Habisnya lucu, setiap curhat tidak jauh-jauh mengeluhkan keluargamu. Sekarang cerita tentang adikmu.” “Lucu apanya, aku sangat benci dia.. Seandainya aku mempunyai adik seperti adikmu. manis, baik, dan yang pasti sayang pada kakaknya.” “Perbedaan umurku dengan adikku kan lumayan jauh. Jangan dibandingkan dengan adikmu Dey. Masing-masing orang memiliki sifat yang berbeda. Lagipula kalau menurutku, Sera itu hanya kasar dimulut. Di hatinya dia sangat menyayangimu.” “Hah? Sangat tidak mungkin.” “Segala kemungkinan itu selalu ada loh Dey. Eh iya Dey, sore ini jadi ngerjain tugas dirumahku?” “Jadi Nes.” “Kamu mau pulang ke rumah terlebih dahulu atau langsung ke rumahku?” “Langsung saja ke rumahmu Nes. Aku sudah membawa laptop kok.” “Sip kalo begitu.”
Sore harinya, aku sudah berada di rumah Nesa. Ibunya menyambut kedatangan kami. “eh, ada Deyza. Apa kabar Dey? lama tak bertemu.” “Iya tante,  keadaanku baik.“ “Ma, kita langsung ke atas ya, mau ngerjain tugas.” “Permisi tante.” “Iya.” Jawab Ibu Nesa. Setengah jam kemudian, ibu Nesa membawakan kue ke kamar. “Tidak usah repot-repot tante.” “Tidak merepotkan kok. Kebetulan tadi tante buat bolu.” “Ayo, kalian makan dulu. Baru lanjut lagi belajarnya.” “Iya tante. terima kasih banyak.” “Ngomong-ngomong kalo tante boleh tahu, kamu dapat IP berapa semester kemarin Dey.” “IP Deyza besar ma” Sahut Nesa sambil mengunyah kue. “Nesa bohong tante, IP-ku masih lebih kecil dari Nesa. 3,4 tan.” “Wah itu sih besar, Hanya berbeda 0,1 dari Nesa. Hebat.. Semakin semangat belajarnya ya.” “Iya tan.” Aku sangat bahagia tante memujiku. “Baiklah, tante tidak mau mengganggu lebih lama belajar kalian. tante turun ya. Kalau bolunya sudah habis, ambil lagi saja ke lantai bawah ya Nes.” “Iya, ma.” Jawab Nesa.
“Nes, ibu kamu baik banget ya. Ingin sekali aku mempunyai ibu seperti ibumu” “Hahaha, kamu ada-ada saja Dey. Tadi ingin mempunyai adik seperti adikku, sekarang ingin mempunyai ibu, seperti ibuku. Nanti lama-lama kamu ingin mempunyai ayah seperti ayahku juga Dey.” “Mungkin..” Jawabku menanggapi serius ucapan Nesa. “Astaga Dey, kamu tidak boleh seperti itu.. Walaupun terkadang menurutmu, keluargamu itu menyebalkan, tetapi sebenernya mereka sangat menyayangimu.” “Tidak mungkin..” “Dey, kamu harusnya bersyukur memiliki keluarga yang lengkap. Lagipula kalau kamu merasa ada tindakan mereka yang menyakitimu. Berhentilah mengeluh dan berandai-andai. Katakanlah secara langsung dengan cara yang baik. Aku yakin mereka akan mengerti. Keadaan diluar diri kita tidak akan berubah kalau tidak dimulai dari diri kita sendiri Dey.” Aku terdiam beberapa saat merenungi perkataan Nesa. “Aduh Dey maaf ya kalau kata-kataku ini terkesan menggurui.” “Tidak apa-apa Nes, makasih atas sarannya.”
***
“Dey, kamu kemana saja hari ini? masa iya kuliah sampai malam seperti ini.” Ucap ibu. “Aku habis mengerjakan tugas di rumah Nesa bu. Tadi aku sudah telepon ke rumah, tapi tidak ada yang angkat.” “Ooh, Ya sudah kamu makan sana. Ibu sudah masak sop ayam.” Tanpa menaruh tas terlebih dahulu ke kamar, aku langsung menuju meja makan. “hmm. Loh mana sopnya bu?.” “Memangnya tidak ada? yang dimangkuk biru.” “Mangkuk biru sih ada, tapi tidak ada isinya bu.” “Wah, sepertinya adikmu menghabiskannya. Sera kamu menghabiskan sop ayam buat kakakmu ya?.” Ucap ibu dengan suara nyaring. “Iya bu, habis aku sangat lapar.” Teriak Sera dari lantai atas. Padahal nasihat Nesa tadi sudah mulai kupertimbangkan, tetapi tindakan Sera kali ini membuatku malas berbaikan dengannya. Setiap hari Sera selalu membuat masalah. Sudah pulang dengan keadaan sangat capai, dia malah membuatku jengkel. “Ya sudah ibu buatkan telor dadar saja ya.” “Hmm” Jawabku. Apa boleh buat, daripada perutku kelaparan dan tidak bisa tidur.
Ruang makan kami terletak dibelakang ruang keluarga tanpa ada penghalang tembok, sehingga aku masih bisa menonton tv dari meja makan. Ibu sedang duduk di sofa menonton berita. Berita yang ditontonnya tentang prestasi mahasiswa yang menciptakan robot. “Dey, lihat tuh. Mereka hebat sekali. Menciptakan robot.” “Mereka itu anak teknik bu. Masa iya Dey yang dari jurusan komunikasi bikin robot juga.” Gerutuku.  “Yah tidak harus robot juga, misalkan kamu bikin sebuah buku. Yang terpenting kamu menyumbangkan sesuatu dibidangmu nak.” “Iya, nanti ya bu. Dey sudah selesai makan, sekarang mau tidur. Selamat malam bu.” Malas mendengar lebih lama ceramah ibu. Sekarang Ibu yang membuatku semakin jengkel. Semua nasihat Nesa hilang dari kepalaku.
***
Sudah dua minggu aku mendiamkan Sera semenjak kejadian ia menghabiskan sop ayamku. Saat dia datang ke kamar dan menjahiliku, aku tidak membalas ucapannya. Kupikir jika aku terus meladeni ucapannya, dia malah semakin senang. Oleh karena itu, kuputuskan untuk tutup mulut saja. Meskipun ingin sekali membalas ucapannya, aku berusaha terlihat setenang mungkin dari luar tak memperdulikannya. Dan kupikir cara ini berhasil. Sudah beberapa hari ini, Ia tidak menjahiliku. Bahagianya.
***
Hari ini, sebelum berangkat kuliah. Aku pergi ke SMA tempatku dulu bersekolah. Aku membutuhkan fotokopi legalisasi ijazah untuk keperluan kampus. Semoga tidak bertemu Sera. Sera juga bersekolah disini, Ia kelas 3. Usai melegalisasi, aku menyempatkan diri untuk makan dikantin. Rindu jajanan masa sekolah. Sedang makan bubur ayam dengan lahapnya, tiba-tiba ada suara yang menyapaku. “Maaf, kakak ini kakaknya Sera ya?” aku menoleh. Bagaimana dia bisa tahu? Aku mengangguk. “Pantesan mirip. aku Lisa temennya Sera. Salam kenal. Sera sering cerita soal kakak loh.” Pasti Sera sering menjelek-jelekkanku pada teman-temannya.
“Ooh. Halo Lisa. Dia cerita apa? Pasti menjelek-jelekkanku ya?” “Tidak kok ka, dia malah sering memuji kakak.” Aku sedikit terkejut mendengarnya. “Oh ya? dia mengatakan apa?” “Ah, aku tidak enak memberitahu tanpa seizin Sera.” Terus kenapa kamu memberitahuku dari awal, batinku. “Yang pasti Sera bangga sama kakak. Kakak sangat berbakat dan berprestasi. Dia ingin seperti kakak.” “Haha, mana mungkin dia bilang seperti itu.” “Seriusan kak.  O iya, hari ini Sera tidak masuk. Sera sakit apa ka?” “Hah? dia tidak masuk?” “Loh, kakak tidak tahu?” Bel berbunyi. “Wah sudah bel, Ka aku masuk kelas yah. Sampai jumpa. O iya, titip salam buat Sera. Semoga lekas sembuh.” I..iya, terima kasih Lisa.” Lisa membalas dengan senyuman. Setelah membayar makanan, aku bergegas pulang ke rumah. Sepertinya hari ini aku tidak akan kuliah.
Sesampainya dirumah, ibu menatapku heran “Loh, kamu tidak kuliah Dey?” “Tidak, Sera ada dimana bu?” “Dikamarnya. dia sakit.” Aku bergegas menuju kamarnya. Begitu aku masuk, Ia sedang terbaring lemah ditempat tidur menoleh padaku. “Mau apa masuk ke kamarku. Sana-sana pergi.”  Aku tidak memperdulikan ucapannya dan langsung berhambur memeluknya erat. “Ih, apan sih ini. geli tahu. lepasin.” ucapnya memberontak. “Cepat sembuh yah adikku. Nanti kalau ada pelajaran yang kamu tidak bisa. tanya saja sama kakak.” Sera hanya menatapku bingung. “Yasudah kamu istirahat lagi saja. Kakak keluar ya.” Aku kembali kekamarku. Terdiam untuk beberapa saat. Masih tidak percaya apa yang kulakukan barusan. Aku sangat bahagia, ternyata selama ini sebenarnya Sera bangga dan ingin menjadi sepertiku. Sehari-hari dia selalu mengejekku hanya untuk mencari perhatianku. Yah, benar apa yang dikatakan Nesa. Apa yang terlihat diluar belum tentu mencermikan isi hati.
Baiklah, kuputuskan aku akan berubah. Selama ini, aku tidak pernah mencoba berkomunikasi baik-baik dengan keluargaku. Yah, semua keadaan tidak akan berubah begitu saja tanpa ada usaha. Aku selalu mengeluhkan tindakan mereka, tetapi tidak pernah mengatakan secara langsung pendapatku. Akan kucoba berbicara jujur kepada ibu dan ayah. Mengatakan isi hatiku sebenarnya…
***
“Bu, aku ingin berbicara dengan ibu. ada waktu?” Ibu yang sedang duduk menonton tv, menoleh. “Iya, ada apa Dey.” Ibu mematikan tv dan menatap ke arahku. “Bu.. Ibu tahu tidak, Dey sangat tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Ketika ibu membanding-bandingkan Dey, Dey sakit hati sekali... Dey tahu, anak-anak teman ibu, mahasiswa yang ikut perlombaan yg ibu lihat di tv adalah orang-orang yang lebih berprestasi dari Dey. Ibu tahu, Dey juga berusaha mati-matian agar ibu bangga sama Dey. Tapi apa hasilnya…Ibu tidak pernah mengatakan hal yang membuat Dey bahagia, justru membuat Dey semakin sedih. Dey tidak mungkin memiliki persis prestasi setinggi orang-orang yang ibu sebutkan. karena Dey bukan mereka. Tetapi, Dey yakin suatu hari nanti ibu akan bangga sama Dey. Dey akan berprestasi dibidang Dey bu.” Ibu hanya terdiam mendengarkan ucapanku. “Dey.. ibu tidak pernah berniat menyakiti hati Dey dengan ucapan ibu. Ibu hanya ingin membuat Dey lebih termotivasi dan semakin berprestasi. Menjadi orang yang sukses… Dulu nenekmu sering membandingkan ibu dengan orang lain. Ibu sendiri tidak suka dengan cara nenekmu. Tapi tanpa sadar, ibu menerapkan aturan yang sama padamu dan Sera. Maafkan ibu nak.” Kulihat mata ibu berkaca-kaca. Mataku mulai berair. Kami saling berpelukan. “Ibu janji tidak akan berbuat seperti itu lagi.” “Makasih ya bu” Ucapku dengan air mata terus mengalir. Sebegitu mudahnya suatu masalah dapat terselesaikan dengan adanya saling keterbukaan dan pengertian. Seandainya aku berinisiatif melakukannya dari dulu.
***
Hari Minggu yang cerah, bergegas aku bangun, berlari menuju kamar Sera. “Sera, banguuun” “Sana pergi! Aku masih ngantuk.” Jawabnya. Aku menutup mukanya dengan selimut. “Ih, apaan sih!” Gerutunya. Aku hanya membalas dengan tertawa, sekali-kali aku ingin  mengerjainya balik. Kemudian aku berlari keluar turun ke lantai bawah. Kulihat ayah sedang membaca Koran. Kalau ibu, sepertinya sedang memasak di dapur. Menghela napas dalam, aku berjalan perlahan ke arah ayah. “Selamat pagi Ayah..” Ayah ,menoleh. “Pagi.” “Ayah, kemarin bagaimana dikantor? pasti ayah pulang capai sekali ya? Dey pijitin ya?” ayah menatapku bingung. “Ayah baik-baik saja. Sedikit lelah, tapi tidak terlalu terasa. Karena setiap bekerja ayah ingat kalian.” Ucapnya lembut. Meskipun saat berbicara sedikit kaku. Sungguh ia tidak terlihat menyeramkan lagi. Aku tersenyum. “Ayah hebat!” Ayah menatap wajahku beberapa detik. Jujur aku masih sedikit takut melihat tatapannya. Namun, tak kusangka kemudian ia tersenyum. Ia tersenyum! Senyuman yang jarang sekali kulihat diwajahnya. Perbincangan kami terus berlangsung sepanjang pagi itu.
Dikemudian hari, aku baru tahu dari ibu. Ayah sangat pendiam karena orang tua ayah mendidiknya dengan keras diwaktu ia masih kecil. Aku sungguh kasihan pada ayah. Sebenarnya ayah sangat menyayangi kami sekeluarga. Namun kini aku sangat bahagia, perlahan ayah sudah mulai sering berbicara padaku dan Sera meskipun masih sedikit kaku.
***
Sudah beberapa bulan berlalu. Aku sangat bahagia. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga lengkap yang terdiri dari ayah, ibu, dan Sera. Aku sangat mencintai mereka! Dan kuyakin mereka pun merasakan hal yang sama. Terkadang, tanpa sadar ibu masih membandingkanku dengan orang lain. Namun, aku tidak lagi mengeluh melainkan mengingatkannya langsung secara baik-baik. Aku memakluminya, pasti sulit merubah kebiasaan ibu secara sekaligus. Aku sudah jarang bertengkar dengan Sera. Meskipun umurnya tidak berbeda jauh dariku, ia masih membutuhkan sosok seorang kakak. Ayahku, sudah sering berbicara ketika kami berkumpul. Terakhir, atas inisiatifnya sendiri, liburan semester ini dia mengajak kami berlibur ke Thailand. Sungguh senang hatiku. Berkat cinta, kini kami lebih sering tertawa bersama.
Yah perubahan itu tidak akan terjadi jika aku tetap mengeluh. Aku yang harus berubah, baru keadaan disekelilingku akan berubah. Kunci nomor satu dalam hubungan manusia adalah komunikasi yang baik. Perubahan dapat terjadi jika kita mau saling mendengarkan dan saling memahami…
***




[1] Indeks Prestasi, penilaian prestasi mahasiswa selama masa kuliah.



Thursday, January 30, 2014

Rusia ≠ Komunis

0 comments

Ketika mendengar nama suatu negara, hal apa yang terlintas dan berkesan akan suatu negara tersebut?
Contohnya, ketika mendengar nama negara Korea Selatan. Mungkin sebagian besar orang akan langsung mengingat hallyu wave. Amerika: negara adikuasa. Inggris dengan kerajan dan Big Bennya. Nah, kalo negara Rusia??

Meskipun  Rusia adalah negara bagian terbesar yang mewarisi rezim Uni Soviet, tetapi Rusia yang sekarang bukanlah negara komunis. Semenjak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, kebebasan mengemukakan pendapat, memberikan suara, dan kebebasan beragama kembali dimiliki oleh rakyat.
Sistem Pemerintahannya adalah Republik Federal, tidak lagi menggunakan ideologi komunis. Partai komunis masih ada di Rusia, tetapi pengikutnya hanya dalam skala kecil. Mayoritas rakyat Rusia tidak mau lagi dipimpin dengan cara komunis yang otoriter. 


Pada tahun 2012, Pusat Levada melaporkan 74 % masyarakat Rusia beragama Ortodoks, 7 % Islam, dan kelompok agama lainnya dengan persentase kurang dari 5 %, yaitu Budha, Protestan, Katolik Roma, Yahudi. 

Sejarah Singkat 
Pangeran Agung Vladimir I yang menjadi pemimpin pada masa kepangeranan, mengutus beberapa utusan untuk mempelajari beberapa agama yang nantinya dijadikan kepercayaan di Rusia. 
Setelah para utusannya kembali, mereka diminta untuk menjelaskan masing-masing agama yang mereka pelajari. Mendengar informasi yang disampaikan para utusannya, Pangeran Vladimir I tidak memilih agama Yahudi karena para penganut Yahudi tidak mempunyai tanah sendiri. Ia juga tidak memilih Kristen Katolik Roma karena tersangkut paut dengan urusan politik. Ia juga tidak memilih Islam karena diharamkannya alkohol. Seperti yang diketahui, orang Rusia sangat menyukai  vodka (minuman keras Rusia). 
Akhirnya, Pangeran Vladimir I memutuskan memilih agama Kristen Ortodoks dan melakukan pembaptisan pada tahun 988 M. Salah satu alasan dipilihnya Kristen Ortodoks adalah agar Rusia tetap independen, tidak berada dibawah otoritas Paus.


Ada banyak tempat ibadah di Rusia, beberapa diantaranya:



Katedral Kristus Sang Juru Selamat, Moskow


http://www.fotoart.org.ua/


Mesjid Ahmad Kadyrov, Grozny










Referensi

Monday, January 27, 2014

Media Sosial

0 comments

Tidak terasa sudah satu tahun lebih saya tidak membuat postingan baru. Rasanya seperti baru beberapa hari yang lalu saya membuka blog ini. Kali ini, entah kenapa tiba-tiba di otak saya terlintas untuk membuat tulisan tentang media sosial.
Ya... bisa dikatakan di zaman modern ini hampir setiap orang (minimal) memiliki satu akun di media sosial, bahkan ada juga yang mendaftar di beberapa media sosial. Salah satunya saya.
Bisa dikatakan saya sangat rajin dan aktif internetan. Saya mempunyai akun di Facebook, Twitter, Plurk, Myspace, Tagged, Vk, Instagram, Path, Italki, Livemocha, LinkedIn,Tumblr dan Blogspot (khusus kedua media sosial terakhir, sangat jarang saya gunakan). Dulu, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer hanya untuk membuka media sosial tersebut. Keadaannya diperparah lagi dengan adanya smartphone dan aplikasi-aplikasi baru seperti Path, dan Instagram.
Rasanya sulit membayangkan kegiatan tanpa adanya media sosial. Perkataan saya ini mungkin terdengar sedikit berlebihan, tapi itulah adanya.
Untungnya, 'ketagihan' saya pada jejaring sosial sudah tidak terjadi beberapa bulan belakangan ini dan semoga tidak terjadi lagi. Pernah dalam seminggu saya tidak membuka akun-akun media sosial. Bukan berarti saya sudah tidak mau menggunakannya lagi. Saya masih sering log in kok, tapi hanya sebentar, tidak menyita waktu berjam-jam-jam-jam (haha) lagi dan sampai menyita waktu tidur .

Kegiatan saya membuka media sosial berkurang karena:
1. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, waktu saya banyak sekali tersita. Begitu menyalakan laptop, biarpun niatnya mengerjakan tugas, tetap saja hal pertama yang saya lakukan membuka media sosial. Awalnya hanya ingin update status dan melihat-lihat sebentar. Taunya sudah satu jam berlalu, begitu dua jam berlalu, saya pikir "tanggung, satu jam lagi deh." tau-tau sudah tiga jam. Begitu tiga jam berlalu, saya sudah mengantuk. Akhirnya tugasnya tertunda...

2. Melihat cat dan kuas yang sudah lama tidak dipakai, iseng-iseng saya melukis lagi. Selain seru, hobi saya ini ada hasil nyatanya. Biarpun lukisan saya jelek, saya selalu puas dan senang koleksi lukisan saya bertambah lagi. Menulis tentang topik tertentu, entah itu membuat cerpen, pengalaman pribadi, pengetahuan, dsb secara tidak langsung membantu mengasah keterampilan menulis.



Beberapa contoh keadaan yang terjadi ketika lebih fokus dengan gadget dan media sosial.



(www.paperbecause.com)


(womenonthefence.com)


Pada dasarnya, dampak baik dan buruk penggunaan media sosial tergantung dari penggunanya sendiri. Maksudnya, kalau menggunakan media sosial sampai lupa dengan 'dunia nyatanya' itu sudah tidak benar. Banyak sekali manfaat dengan menggunakannya, asalkan tidak digunakan secara berlebihan seperti saya beberapa waktu lalu.
Beberapa manfaat yang saya peroleh dari media sosial, antara lain: saya mendapatkan informasi mengenai event, beasiswa, bisa berteman dengan orang dari negara lain. Menurut saya, itu sangat mengagumkan. Saya bisa praktek berbicara menggunakan bahasa asing dengan natifnya dan mendapat informasi budaya, pendidikan disana, dsb. Selain itu contoh lainnya, ketika sulit sekali menemukan sumber referensi tugas. Hanya buku milik sendiri dan perpustakaan sekolah yang dapat saya andalkan. Sekarang jika kekurangan sumber referensi bisa langsung browsing, dan dalam sekejap muncul link-link yang berkaitan dengan kata kunci yang kita cari.

Kesimpulannya, jangan menggunakan media sosial berlebihan dan tekuni hobi yang menyenangkan dan ada hasilnya (berbicara pada diri sendiri) :)))









Sunday, January 6, 2013

Story 3

0 comments



3

“Pertemuan seringkali terjadi di tempat, waktu, dan kejadian yang tak terduga..”
                                                                                                                       
2008

“Cepetan Lari!! Udah kesiangan masih lambat!” “Mana buku tugasnya?!!” Kamu mau ngelawan?!” “Kamu udah mahasiswa! Harus gesit!” “Name tag kamu ini kenapa rusaaak?!”. Sungguh melelahkan mendengar omelan-omelan senior, beginikah penderitaan jadi mahasiswa baru, untungnya ini hari terakhir ospek, pikirku. Setelah mengikuti serangkaian acara ospek, aku bergegas membereskan isi tasku dan secepatnya pulang. Rumahku lumayan jauh dari kampus, oleh karena itu untuk sampai ke rumah perlu naik kereta, lanjut naik satu kali angkutan umum. Tidak bisa menahan rasa kantuk, aku pun tertidur di kereta. Untungnya aku berhenti di stasiun terakhir, sehingga tidak perlu khawatir terlewat ke stasiun lain.
Tiga puluh menit kemudian aku sampai, keluar dari stasiun kemudian aku menyetop angkutan. “Untung angkutannya masih kosong, aku bisa meluruskan kakiku yang pegal disini” pikirku. Baru berjalan beberapa meter, sudah ada penumpang baru. Aku pun segera menurunkan kakiku dari kursi didepanku. Ternyata penumpang itu seorang pria muda. Sepertinya ia menyadari aku sedang melihat kearahnya, kemudian ia juga melihat ke arahku. Aku sangat malu, aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain.
 Sepuluh menit kemudian aku sampai di depan komplek perumahanku, aku pun merogoh tas mengambil dompet. “Loh, mana dompetku?’ Aku merogoh semakin dalam tasku, tapi tiba-tiba jari-jariku keluar dari tas, ada bekas siletan di tasku! Sepertinya aku kecopetan. “Pak, maaf dompet saya g ada, sepertinya hilang di kereta. Bisa ga lain kali saya bayar?” Ucapku terbata-bata. “Lah memangnya itu urusan saya! Kalau mau naik angkutan siapkan uang lebih dulu! Udah tau dompet ilang masih berani naik angkutan. Udah niat ga byar dari awal ya?” Bentak supir angkutan. “bu-bukan begitu..” Ketika mengucapkannya aku hampir menangis. “Pak, ga perlu berbicara seperti itu, dia ga mungkin berbohong.. Biar saya yang bayar ongkosnya, mbak langsung pulang saja” Ucap pria muda itu. Ternyata pria yang tadi sempat aku perhatikan mendengar pembicaraanku dengan supir. “Terima kasih mas..” Ucapku. “Sama-sama..” Jawabnya. Angkutan itu kemudian berlalu. “Ia pria yang baik, lain kali kalau bertemu lagi aku harus membalas kebaikannya.. apa mungkin bisa ketemu lagi ya?”Akupun langsung berjalan masuk ke dalam kompleks.

***

Kuliah hari pertama, bagiku… cukup menyenangkan. Aku berkenalan dengan teman-teman baru. Aku menikmati pelajaran hari ini. Mungkin hal ini dikarenakan jurusan yang aku ambil adalah minatku. Yah, sejak kecil aku menyukai semua hal tentang psikologi. Oleh karena itu, begitu masuk kuliah tak ragu aku mengambil jurusan psikologi. Begitu kelas berakhir,aku pergi ke perpustakaan. Aku sangat suka membaca buku. Disana, aku pergi ke rak buku-buku bahasa jepang. Yah selain psikologi, jepang adalah hal yang menarik minatku. Tak lama kemudian aku menemukan buku yang menarik, aku pun mengambilnya dan mencari tempat duduk untuk membacanya. Ada satu tempat kosong di sebelah mahasiswa yang sedang asik dengan laptopnya. “Permisi, bangku ini kosong?” tanyaku. Ia pun menoleh “Ya, kosong kok. Silahkan” Jawabnya. Sempat selama beberapa detik aku diam memandang wajahnya. Ternyata dia pria yang membayarkan ongkosku waktu itu. Aku memberanikan diri untuk menyapanya, “Mas, masih inget saya ga?” tanyaku. Ia pun kembali menoleh dan melihatku seksama “Ooh, kamu mbak yang waktu itu.. ternyata kuliah disini juga?” Ucapnya. “Iya mas,hehe. Tapi saya maba..Oh iya.. aku mau ngembaliin duit mas yang waktu itu” Ucapku sambil mengeluarkan dompet. “Ga usahlah, aku emang ikhlas mau nolong kamu waktu itu” Balasnya. “Tapi aku ga enak mas” “Ga usah kakulah, enak-enakin aja” Ucapnya sambil tersenyum. “Kalau gitu, sekali lagi makasih ya mas” Ucapku tersipu malu. “Oh iya, nama mas siapa?” “Regi, kamu?” “Zahra”. Kemudian obrolan kami terus berlanjut. Tidak hanya baik hati, dia pria yang menyenangkan. Lembaran baruku dimulai..lingkungan baru, dan teman-teman baru, bahkan mungkin kisah cinta baru..

Saturday, January 5, 2013

Maknae Kyuhyun Suju dan Chansung 2pm

0 comments

Berhubung beberapa hari ini saya lagi semangat bikin tulisan, dan juga masih menikmati liburan kuliah. Saya mau ngepost tentang dua idol boyband korea favorit saya. Kebetulan mereka sama-sama maknae (anggota termuda) di boyband masing-masing. Mereka adalah...



Kyuhyun Suju



Kyuhyun yang bernama lengkap Cho Kyuhyun lahir pada tanggal 3 Februari 1988, dengan tinggi 180 cm. Kyuhyun itu tampan dan tinggi. Selain dari penampilan fisiknya, yang paling menarik perhatian saya yaitu... suaranya. Suaranya sangat merdu. Sebenarnya, dengan modal ketampanan dan suaranya itu, Kyuhyun bisa saja bersolo karir. Akan tetapi belum tentu ia bisa setenar sekarang dengan grup super juniornya :) Biarpun kyuhyun tidak bersolo karir, setidaknya ia pernah mengisi ost beberapa drama korea, kemudian ia juga memiliki sub unit K.R.Y dan SM the ballad yang kebanyakan menyanyikan lagu ballad (favorit saya).



Chansung 2pm







Chansung lahir dengan nama lengkap Hwang Chansung. Ia lahir pada tanggal 11 Februari 1990 dengan tinggi 184 cm. Seperti Kyuhyun, Ia juga tampan. Dan kalau dilihat-lihat, menurut saya muka Chansung tidak terlalu mirip orang korea. Sebelum menjadi seorang penyanyi, Chansung adalah seorang aktor. Meskipun suaranya tidak sebagus Kyuhyun, saya suka tipe suaranya :)  


Saya harap dengan bakat dan juga kerja keras, mereka bisa bertahan dengan grup masing-masing di dunia entertainment sampai bertahun-tahun kemudian :))




Story 2

0 comments



Untuk bagian kedua, ceritanya lebih pendek lagi dari cerita yang pertama.. 

2
“Jatuh cinta dapat terjadi dalam waktu yang singkat, tapi butuh waktu yang lama untuk melupakannya..”
     2005
Sekarang aku sudah menjadi siswa kelas 2 SMA, sudah tiga tahun Qeira pergi dari kehidupanku. Semenjak dia pergi, sudah beberapa kali aku berpacaran dengan wanita lain. Sedikit demi sedikit aku sudah mulai bisa melupakannya.
Setelah pelajaran berakhir, aku langsung cepat-cepat keluar kelas. Tadinya aku berniat langsung pulang ke rumah, tetapi begitu melewati taman sepertinya nyaman duduk sambil memandangi pemandangan terlebih dahulu. Aku pun mencari spot yang tidak terlalu ramai. Ketika sedang asik melihat burung-burung terbang di sekitar, tiba-tiba aku dikagetkan suara tangis anak kecil yang terjatuh dari sepeda. Sepertinya orang tuanya tidak ada di sekitar taman, lantas aku pun bangkit berdiri dan berjalan ke arahnya. Tapi ada seorang ibu dan anak kecil perempuan yang datang ke arahnya lebih dulu. Anak kecil perempuan itu mengeluarkan plester luka dari tasnya, dan memasangkan di kaki anak laki-laki itu. Ibu itu tersenyum melihat kebaikan hati anak perempuannya. Pikirku, pasti ia sangat bangga mempunyai anak seperti itu.
Melihat kejadian itu, aku jadi teringat masa laluku ketika masih duduk di bangku SD. Kejadian yang persis sama, tetapi anak perempuan yang menolongku hanya seorang diri, badannya lebih tinggi dariku. Tampaknya umurnya lebih tua dariku. Hal lucu yang kuingat adalah ketika ia menolongku, ia mengucapkan jampi-jampi di lukaku. Ia berkata samabil memasang plester di dengkulku, “Luka,luka cepatlah sembuh!”. Mengingat hal itu kembali, aku jadi tersenyum sendiri. “Dia anak perempuan yang lucu, sayang aku tidak sempat menanyakan namanya.. Ada dimana yah dia sekarang?”.

Friday, January 4, 2013

Cinta Pertama

0 comments

Saya adalah jenis orang yang suka sekali berimajinasi. Dari kecil jika ada waktu senggang, kadang-kadang dalam pikiran saya terlintas pikiran untuk membuat cerita. Begitu saja langsung muncul tema, tokoh-tokohnya, setting bahkan seperti di film-film ada background musicnya..haha..Dulu kira-kira waktu saya masih kelas 1 sma pernah bikin cerita yang ditulis tangan di buku tulis (dulu belum punya laptop sendiri) niat awalnya sih pengen bikin novel (gaya banget). Banyak halaman di buku tulis itu hilang, makanya jadi ga terselesaikan juga sampe sekarang. Sebenarnya, permasalahan utama saya dalam menulis, yaitu saya bisa membuat cerita selancar mungkin dalam pikiran saya, tapi entah kenapa, begitu niat menuangkannya dalam bentuk tulisan. Susahnya minta ampun.

Waktu semester kemarin lagi jenuh-jenuhnya ngerjain tugas, saya iseng-iseng ngetik-ngetik yang ada di pikiran saya, tau-taunya jadilah beberapa cerita pendek. Yaah ceritanya sih bisa dibilang standar, bosenin, ceritanya loncat-loncat n cara penulisan saya buruk, tapi saya pengen share disini. Karena ini merupakan karya tulisan kedua saya setelah sekian lama.hehe. 

Langsung saja, my first story .. :)


1
“Diantara orang-orang yang mengisi dan mewarnai kehidupan..hanya ada seseorang yang menjadi tambatan hati..”
                                                                                                                        2002
“Selamat siang! Halo teman-teman… namaku Qeira! Salam kenal..” Ucap Qeira sambil tersenyum. Melihat cara siswa baru itu berdiri, berbicara, dan tersenyum, aku berpikir dia gadis yang manis.  “Baiklah, Qeira kamu bisa duduk di kursi sebelah sana” ucap pak guru.  “Baik pak” Jawab Qeira sambil melangkahkan kaki ke arah bangku yang ditunjuk pak guru. Bangku yang tepat berada disebelah kananku. Pelajaran pun dimulai.. Ketika membuka buku, aku sedikit dikagetkan oleh siswa baru  itu. “Halo teman sebelah, kenalan dong..namaku Qeira, kamu?” tanya Qeira tersenyum sambil menjulurkan tangan.  “Regi..” balasku singkat.  Aku sedikit terkejut, dia mengajak bicara terlebih dulu, yah itulah pertama kalinya aku melihat senyuman manis Qeira, dan itulah awal mula kedekatanku dengannya.

***

Tanpa terasa,sudah tiga bulan Qeira menjadi murid di sekolahku. Dan kami pun sudah mulai akrab. Dia adalah gadis tercantik yang pernah aku lihat. Mungkin itu merupakan perkataan gombal. Tapi aku tidak peduli. Jika harus di deskripsikan dengan kata-kata, Qeira adalah gadis riang dan humoris, baik, ramah, dan masih banyak kelebihan yang dimilikinya. Bisa dikatakan aku jatuh cinta padanya..  “Cinta” mungkin itu satu kata yang terlalu serius bagi anak SMP sepertiku. Tapi itulah yang aku rasakan..
Ketika jam istirahat, Qeira datang ke arahku, “Gi, katanya Laruku mau tampil di Indonesia!!” Ucap Qeira “Ooh, aku sudah tau, tapi tiketnya mahal banget Qei. Aku gada uang untuk beli, lagian sekarang pasti udah sold out” Jawabku. “Taraaa, lihat ini” Tunjuk Qeira.  “Hahh?!! Itu kan tiket Laruku! Kamu dapet darimana tiket itu?” tanyaku.  “Kakakku dapet bonus dua tiket ini dari temennya, tapi dia g terlalu suka lagu Jpop. Jadinya dia kasih ke aku deh” Jawab Qeira dengan nada riang. “Wah, selamat yaa Qei..” Ucapku. “ehmmmmm kamu mau ga nemenin aku nonton bareng?”Tanya Qeira. Aku terkejut mendengar ajakan Qeira. “Kalo kamu ngizinin, tentu aja aku  mau”. “Kalau gitu, sampai ketemu hari minggu yaah” Ucap Qeira. “Oke..!” Jawabku bersemangat.
***
Hari minggu pun tiba, Aku bangun pagi-pagi sekali. Mempersiapkan penampilan terbaikku. Usai sarapan, aku langsung bergegas pergi menuju rumahnya. Tak lama menunggu di teras rumah Qeira, ia muncul. “Hai gi, maaf ya aku lama.hehe” Ucapnya tersipu malu. “Ga pa-pa kok, btw hari ini kamu cantik banget..”Ucapku.  Mendengar ucapanku itu, kulihat wajah Qeira memerah. “Apa sih Gi, jangan bikin aku malu deh, langsung pergi yuk..”  Aku membalas dengan anggukan.
Di tempat konser, kami sangat menikmati lagu-lagu dan penampilan yang dibawakan Laruku. Meskipun sedikit gelap, sesekali aku melirik wajah Qeira, ia sangat menikmati lagu yang dibawakan Laruku. Sempat mata kami berpas-pasan, kemudian dia tersenyum. Malam itu Qeira sangat mengagumkan.
***
Semakin berjalannya waktu, kami pun semakin dekat. Sampai-sampai sudah tersebar gosip di antara siswa-siswa bahwa kami berpacaran. Sejujurnya aku sangat senang mendengar gosip itu, meskipun sebenarnya hubungan kami belum sampai taraf  berpacaran, tetapi juga bukan sekedar teman biasa.. Kami sering pergi bersama, menyukai band yang sama, makan bersama, dan belajar bersama.. itu adalah hal yang paling membahagiakan yang aku rasakan. Entahlah bagaimana dengan Qeira, apakah dia juga senang atau kesal mendengar gosip yang beredar itu. Perasaan Qeira yang sampai saat ini tidak terbaca, apakah dia mencintaiku atau tidak, membuat hubungan kami masih bertahan di taraf pertemanan. Aku masih terlalu takut menyatakan perasaanku padanya, aku juga takut nantinya tersakiti jika cintaku selama ini pada akhirnya ditolak.
***
Liburan semester ganjil pun tiba. Bagi kebanyakan siswa, liburan adalah hal yang menyenangkan, tapi tidak untukku. Liburan semester berarti aku tidak akan pergi sekolah selama 2 minggu, tidak ke sekolah itu berarti tidak akan bertemu dengan Qeira. Sebenarnya bisa saja aku datang berkunjung ke rumahnya, tapi tentu tidak mungkin kulakukan setiap hari. Setelah tujuh hari libur, aku sudah tidak sabar ingin bertemu Qeira, aku pun memberanikan diri datang ke rumahnya. Sudah setengah jam aku berdiri di depan rumahnya, dan memencet bel berkali-kali, tapi tidak ada jawaban sama sekali. “Sepertinya Qeira dan keluarganya sedang berlibur di suatu tempat” pikirku. Aku pun berjalan lesu kembali ke rumah. Dua minggu kemudian liburan berlalu, hari Senin yang kutunggu-tunggu datang. Pagi-pagi aku sudah siap berangkat sekolah dan tidak sabar bertemu lagi dengan Qeira. Tapi kenyataannya sampai jam pelajaran berakhir, Qiera tidak ada. Bangkunya kosong. Dua hari, tiga hari, sampai lima hari kemudian sosoknya tidak terlihat. Aku dihinggapi kecemasan, “Apa mungkin saat ini Qeira sedang sakit? Sepertinya hari ini aku harus berkunjung ke rumahnya lagi” pikirku.
Usai istirahat, jam pelajaran berlanjut, wali kelasku masuk. “Selamat siang anak-anak. Mari kita lanjutkan pelajaran selanjutnya. Minggu lalu kita sudah membahas jenis-jenis tumbuhan, sekarang kita lanjutkan bab berikutnya, buka halaman 245. Oh iya, ada yang perlu bapak sampaikan sebelumnya. Teman kalian Qiera Shakila tidak akan lagi belajar disini. Ia pindah sekolah. Dan karena kepergiannya mendadak, ia memohon maaf tidak bisa menyampaikan salam perpisahan kepada kalian. Baiklah mari kita lihat gambar di halaman 245…” Aku yang sedari tadi sibuk dengan pikiranku sendiri, tersentak mendengar apa yang tadi pak guru katakan. Penjelasan pak guru tidak terdengar lagi, semuanya terasa gelap.. aku masih tidak percaya dengan kepindahan Qeira..
Ia memang pernah menceritakan padaku bahwa pekerjaan ayahnya mengharuskan ia dan keluarganya berpindah-pindah tempat tinggal. Tapi tidak kusangka baru tinggal satu tahun disini ia harus pindah lagi. Hatiku hancur, dan untuk kesekian kalinya ia membuatku terkejut. Apakah dimatanya hubungan kami selama ini tidak ada artinya? sampai-sampai sebelum pergi, ia tidak menyampaikan sepatah kata pun padaku dan pergi begitu saja. Hatiku sakit.. Yah inilah akhir cinta pertamaku..